Showing posts with label Rumpun. Show all posts
Showing posts with label Rumpun. Show all posts

Rumpun Jawa

Suku Jawa, adalah suku bangsa yang memiliki jumlah terbesar di Indonesia. Hampir 40% dari total jumlah penduduk di Indonesia adalah orang Jawa. Orang Jawa terkonsentrasi di pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sejak adanya program pemerintah seperti Transmigrasi, maka orang Jawa pun tersebar ke beberapa daerah di Indonesia. Program Tenaga Kerja ke luar negeri juga membawa orang Jawa banyak tersebar ke luar negeri, seperti ke negeri jiran Malaysia, dan beberapa negara di Timur Tengah. Sekitar tahun 1880-an, orang Jawa juga banyak yang dibawa jauh menyeberang samudra, oleh pemerintah kolonial Belanda ke luar negeri, seperti ke Suriname.

Suku Jawa, saat ini banyak memiliki varian, yang terdiri dari beberapa kelompok kecil, walaupun mereka tetap mengaku dirinya sebagai orang Jawa, tetapi secara tradisi, bahasa, dan kehidupan terdapat perbedaan-perbedaan kecil. Mereka adalah:

pulau Jawa:

luar pulau Jawa:

luar Negeri:


diolah dari berbagai sumber

Deutro Malayan di Kalimantan (Borneo)

Pulau Kalimantan, adalah pulau terbesar di Indonesia, juga dihuni oleh beberapa suku bangsa Deutro Malayan yang masuk dari berbagai tempat, dan hidup berkembang dan menetap sekian lama di pulau ini.

Suku bangsa deutro malayan di pulau Kalimantan dilihat dari asal usulnya berasal dari berbagai tempat di Asia Tenggara, seperti dari Sumatra, Malaysia, Asia Tenggara dan bahkan datang dari Filipina dan dari pulau-pulau Pasifik. Beberapa suku bangsa Deutro Malayan di pulau Kalimantan ini terjadi pembauran dengan penduduk setempat suku Dayak, dan akhirnya membentuk beberapa komunitas, dengan budaya dan tradisi adat sendiri sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu.

Berikut daftar suku bangsa Deutro Malayan di pulau Kalimantan:

Kalimantan Barat
  • Melayu Pontianak

Kalimantan Selatan


Rumpun Minahasa

suku Minahasa
Suku Minahasa, adalah suatu suku bangsa yang terdapat di kabupaten Minahasa provinsi Sulawesi Utara. Suku Minahasa selain di kabupaten Minahasa, banyak juga mendiami kota Manado, ibukota Sulawesi Utara, dan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Istilah "minahasa", sebenarnya telah berubah beberapakali, dari Batacina berubah menjadi Malesung, dan berubah lagi menjadi Minaesa dan akhirnya menjadi "Minahasa", yang artinya "menjadi satu kesatuan". Nama Minahasa ini mulai dikenal pada masa perang melawan Kerajaan Bolaang Mongondow selatan.

Diperkirakan daerah Minahasa, telah ada sekelompok manusia dari ras melanosoid yang menghuni daerah ini sejak 10000 tahun SM. Sedangkan kelompok ras mongoloid yang merupakan nenek moyang orang Minahasa diperkirakan hadir pada awal abad 1000 tahun SM dan mendesak orang-orang Melanosoid itu sehingga pindah ke wilayah lain seperti Papua. Nenek moyang orang Minahasa dikatakan berasal dari daerah China Selatan atau dari daerah Formosa Taiwan yang melintas melewati Filipina, Kalimantan dan akhirnya ke Sulawesi dan kemungkinan juga sekelompok kecil terus ke Maluku.

Toar dan Lumimuut
Sedangkan dalam mitologi, orang Minahasa adalah keturunan Toar Lumimuut, sekitar abad 1, pemukiman nenek moyang mereka terlebih dulu berdiam di sekitar pesisir Likupang, lalu pindah ke daerah pegununggan Wulur Mahatus, wilayah selatan Minahasa kemudian berkembang dan berpindah ke Nieutakan (daerah sekitar Tompaso baru saat ini). Pada awalnya mereka menjalankan pemerintahan menggunakan sistem kerajaan. Seorang raja bertahta berdasarkan garis keturunan.

Keturunan Toar dan Lumimuut, terbagi menjadi 3 kelompok: Makatelu Pitu, Makaru Siouw dan Pasiowan Telu. Tapi suatu ketika terjadi perselisihan di antara mereka. Pemimpin mereka bernama Tona'as, memutuskan untuk mengadakan pertemuan di antara mereka semua. Pertemuan itu disebut Pinawetengan u Nuwu (membagi bahasa) atau Pinawetengan um Posan (membagi ritual), yang memutuskan bahwa keturunan Toar Lumimuut, dibagi menjadi beberapa kelompok. Kemudian di tempat pertemuan ini dituliskan hasil keputusan pada prasasti pada Watu Pinawetengan (Batu Membagi). Peristiwa ini menurut Paulus Lumoindong, terjadi sekitar tahun 400-500 Masehi. 

Menurut Jessy Wenas, bahwa ada 3 suku yang berpartisipasi dalam musyawarah di Watu Pinawéténgan. Dikatakan musyawarah adat pembagian di Watu Pinawetengan terjadi pada zaman Malesung, sekitar abad ke-7, orang Minahasa masih terdiri dari 3 sub-etnik besar, yaitu:
  • Tountewoh
  • Tombulu
  • Tongkimbut

Berbeda dengan pendapat Dr. J.P.G. Riedel, sekitar tahun 670, Musyawarah di Watu Pinawetengan membagi wilayah Minahasa berdasarkan 4 anak suku, yaitu:
  • Tountewoh
  • Tombulu
  • Toulour
  • Tompakewa

Pada masa zaman Malesung (Proto Minahasa/ Minahasa Tua), keturunan Toar dan Lumimuut, yang awalnya hanya terdiri dari 1 Taranak (Kelompok Masyarakat), yang berdiam di pegunungan Wulur-Mahatus, dibagi menjadi 3 Taranak, yaitu: 
  • Makarua Siouw   , sebagai pengatur ibadah dan adat
  • Makatelu Pitu      , yang terkuat, sebagai pengatur pemerintahan
  • Pasiowan Telu    , menjadi rakyat biasa

Makatelu Pitu sebagai Taranak yang terkuat, dan sebagai satu-satunya Taranak yang berhak memegang pemerintahan pada seluruh Wanua, yang terdiri dari:.
  • Makatelu Pitu
    • Tombulu
      • Tombariri
      • Tomohon (Tou Muung)
      • Sarongsong
      • Kakaskasen
      • Ares
      • Kalawat Atas (Klabat Atas)
      • Kalawat Wawa (Klabat Bawah)
      • Likupang.

Di luar suku-suku di atas, yang berasal dari daerah lain, tapi tergabung dalam kelompok Minahasa, yang tidak ikut serta dalam musyawarah di Watu Pinawetengan, adalah:
  • Bantik, (datang dari Sulawesi Tengah, nenek moyang juga berasal dari Toar-Lumimuut)
  • Babontehu, (datang dari Moro-Mindanao, nenek moyang juga berasal dari Toar-Lumimuut))
  • Borgo, (berasal dari keturunan campuran Minahasa - Portugis-Spanyol-Belanda)
dan,
  • Tou Ure,  tinggal menetap di pegunungan Wulur - Mahatus. "Tou Ure" berarti "orang lama".
  • Keturunan Opok Suawa, pergi ke wilayah Gorontalo

Saat ini, yang diakui sebagai suku besar Minahasa, adalah:
  1. Tountemboan
  2. Tombulu
  3. Tonsea
  4. Toulour / Tondano
  5. Tonsawang - Tombatu
  6. Ponosakan
  7. Pasan dan Ratahan (Bentenan)
  8. Bantik
  9. Babontehu
  10. Borgo

Mayoritas masyarakat suku Minahasa beragama Kristen. Mereka memiliki hubungan erat dengan negara barat. Hubungan pertama dengan orang Eropa terjadi saat pedagang Spanyol dan Portugal tiba di sana. Saat orang Belanda tiba, dan memperkenalkan agama Kristen ke seluruh masyarakat Minahasa. Agama Kristen tumbuh dengan kuat dalam kehidupan masyarakat suku Minahasa. Setiap perkampungan memiliki beberapa bangunan gereja.

Bahasa di Minahasa:

bahasa di Minahasa













Dalam sejarah Minahasa, hanya satu Taranak yang menurunkan suku-suku di Minahasa, yaitu Taranak Makatelu Pitu. Sedangkan untuk 2 Taranak lainnya, seperti Taranak Makarua Siouw dan Pasiowan Telu tidak diketahui sejarah kelanjutannya.

Istilah-istilah penting dalam suku Minahasa:
  • walian         : pemimpin agama / adat serta dukun
  • tonaas         : ahli di bidang pertanian, kewanuaan dan dipilih menjadi kepala walak
  • teterusan     : panglima perang
  • potuasan     : penasehat
  • wanua         : wilayah pemukiman besar/ utama
  • taranak       : kelompok suku besar
  • pakasa'an  : anak suku
  • walak          : klan, atau suku kecil di bawah pakasa'an
  • fam              : nama keluarga (marga)

sumber:
sumber lain dan foto:

Deutro Malayan di Jawa


Pulau Jawa, pada umumnya seluruhnya dihuni oleh suku-bangsa Deutro Malayan, mulai dari daerah ujung sebelah barat sampai ke wilayah ujung sebelah timur pulau Jawa.

Ratusan-ribu tahun yang lalu, ketika pulau-pulau di indonesia masih saling menyatu, sebelum kehadiran suku bangsa Deutro Malayan di pulau Jawa, telah hadir suatu populasi yang memiliki ras melanesoid yang mengisi pedalaman pulau Jawa. Beberapa fosil pernah ditemukan di pulau Jawa, tapi diperkirakan karena terjadi bencana alam yang dahsyat atau kemungkinan karena wabah penyakit, maka populasi Melanesoid ini diyakini punah atau bermigrasi ke daerah lain, kemungkinan ke wilayah yang lebih jauh seperti Papua. Sedangkan kelompok Proto Malayan juga pernah bermukim di pulau Jawa ini, tapi karena masuknya suku-bangsa Deutro Malayan dengan jumlah besar, maka suku-bangsa Proto Malayan terdesak ke daerah lain, ke pulau Kalimantan dan ke wilayah Nusa Tenggara Barat, dan yang bertahan berbaur dengan suku-bangsa Deutro Malayan, sehingga tidak bisa diidentifikasikan lagi keberadaannya.

Kehadiran suku-bangsa Deutro Malayan di pulau Jawa mengalami sejarah yang panjang, sejak gelombang migrasi suku-bangsa deutro malayan sekitar abad 2, yang menyebar ke seluruh kawasan kepulauan Indonesia, termasuk di pulau jawa, yang masuk melalui pantai sebelah barat pulau jawa. Beberapa tradisi kerajaan banyak berkembang di pulau Jawa ini. Pada awalnya mereka adalah penganut agama Hindu-Budha, tapi saat ini agama Islam menjadi agama mayoritas bagi masyarakat pulau Jawa, sedangkan sebagai agama minoritas adalah agama Kristen, dan sisanya tetap mempertahankan agama Hindu dan Budha.

Berikut daftar suku bangsa Deutro Malayan di pulau Jawa:

Banten

DKI Jakarta

Jawa Barat

D.I. Jogjakarta

Jawa Tengah

Jawa Timur


sumber foto:
  • dharmabeck88lovers.cc.cc

Deutro Malayan di Sumatra

suku Batak Pasisir

Pulau Sumatra, selain menjadi tempat pertama yang disinggahi oleh kelompok Proto Malayan, juga menjadi tempat pertama yang disinggahi oleh kelompok Deutro Malayan. Kelompok Deutro Malayan ini masuk dan berkembang dengan pesat di daratan Sumatra, mulai dari Aceh hingga ke wilayah sebelah Selatan pulau Sumatra. Kehadiran suku bangsa Deutro Malayan yang telah memiliki teknik pertanian dan teknik persalinan yang jauh lebih maju dari suku bangsa Proto Malayan, pertumbuhan penduduknya sangat pesat, sehingga membuat sebagian besar kelompok suku bangsa Proto Malayan terdesak ke hutan pedalaman, gunung-gunung, ke pulau-pulau kecil di sekitar pulau Sumatra, dan yang lainnya berbaur dengan adat-istiadat dan budaya suku bangsa Deutro Malayan dan kehilangan keasliannya.

Suku bangsa Deutro Malayan, di pulau Sumatra setelah memeluk agama Islam, kebanyakan menyatakan diri mereka sebagai orang Melayu.

Suku bangsa Deutro Malayan, pada awalnya membawa budaya hindu-budha, dengan teknologi pertanian yang sudah lumayan maju. Sehingga pertumbuhan mereka begitu pesat. Kelompok-kelompok Deutro Malayan yang lain melanjutkan perjalanan menuju pulau-pulau lain dan tersebar-sebar ke seluruh wilayah kepulauan Indonesia lainnya.

Suku-suku bangsa deutro-malayan di pulau Sumatra

Aceh

Sumatra Utara

Riau

Jambi

Sumatra Barat  

Bengkulu

Bangka Belitung
Sumatra Selatan


sumber:
  • protomalayans.blogspot.com
sumber foto:
  • suku Batak Pasisir: naulipesisir.wordpress.com