Suku Banten

Suku Banten, adalah suatu komunitas masyarakat yang mendiami provinsi Banten. Populasi suku Banten ini diperkirakan lebih dari 4 juta orang.

suku Banten
Suku Banten berbicara dalam bahasa Banten, yang termasuk salah satu dialek dari bahasa Sunda. Bahasa Banten sendiri, bagi masyarakat Sunda, dianggap sebagai bahasa yang kasar. Bahasa Banten sebenarnya adalah bahasa Sunda kuno, sebagai bahasa yang diucapkan oleh masyarakat Sunda pada masa lalu. Sedangkan bahasa Sunda yang sekarang ini adalah termasuk bahasa yang banyak dipengaruhi oleh bahasa dan tradisi hindu, yang menerapkan sistem kasta, atau pada masa kesultanan Jawa pada masa lalu, seperti bahasa Jawa halus-kasar.
Selain itu dalam bahasa Banten, tidak mengenal istilah bahasa lemes dan kasar, karena wilayah Banten sendiri tidak pernah dikuasai oleh Kesultanan Mataram yang mengenal kasta (tingkatan) bahasa lemes (halus) atau kasar, seperti yang berlaku di daerah kekuasaan Mataram.

Istilah "banten" sudah ada jauh sebelum hadirnya Kesultanan Banten, yang berasal dari nama sebuah sungai dan nama daerah, yaitu Cibanten atau sungai Banten. Kata "banten", tertulis dalam naskah Sunda Kuno Bujangga Manik, yang menyebutkan nama-nama tempat di Banten, yaitu:

"tanggeran Labuhan Ratu.
Ti kaler alas Panyawung,
tanggeran na alas Banten"

Jadi istilah "banten", sejak dahulu memang sudah dikenal di wilayah Banten ini. Dipastikan daerah ini sejak dahulu, jauh sebelum kehadiran Kesultanan Banten, daerah ini telah bernama "Banten". Berdasarkan riset yang dilakukan di Banten Girang pada tahun 1988 dalam program Franco-Indonesian excavations, di daerah ini telah ada pemukiman sajak abad ke 11 sampai 12 (saat kerajaan Sunda). Berdasarkan riset ini juga diketahui bahwa daerah ini berkembang pesat pada abad ke-16 saat Islam masuk pertama kali di wilayah ini. Perkembangan pemukiman ini kemudian meluas ke arah Serang dan ke arah pantai. Di daerah pantai inilah kemudian didirikan Kesultanan Banten oleh Sunan Gunung Jati. Kesultanan Banten ini pada masa pemerintahan kolonial Belanda, dirubah menjadi keresidenan.

Pada awalnya orang-orang asing menyebut orang yang berdiam di wilayah ini sebagai "bantenese" atau "orang banten", baru setelah masa kemerdekaan, ditinjau dari kesatuan etnik dan budaya yang berbeda dengan budaya lain, maka orang-orang Banten ini pun disebut sebagai suku Banten.

Suku Banten memiliki berbagai jenis kesenian tradisional. Salah satunya adalah "debus". Debus, adalah suatu kesenian yang mengandung unsur magic atau mistis, yaitu dengan menusukkan benda-benda tajam ke tubuh si pelaku debus ini. Si pelaku, terlebih dahulu seperti kerasukan sambil memegang benda-benda tajam seperti besi tajam, pisau, lalu menusukkan ke bagian-bagian tubuh si pelaku. Kesenian "debus" ini mirip dengan suatu kesenian dari daerah Aceh, yang juga melakukan kegiatan ritual menyakiti tubuh, yang konon katanya atas seizin Allah. Jadi, kalau Allah mengizinkan, maka pisau, golok, parang atau peluru sekalipun tidak akan melukai mereka. Di Banten pada awalnya kesenian "debus" ini berfungsi untuk menyebarkan ajaran Islam. Namun, saat ini, kesenian debus ini hanya berfungsi sebagai sarana hiburan semata.

Masyarakat suku Banten, sebagian besar adalah penganut agama Islam. Agama Islam tumbuh begitu kuat dalam kehidupan masyarakat suku Banten. Orang Banten dikenal sebagai penganut Islam yang fanatik. Pengaruh Islam sangat kuat dalam kehidupan suku Banten. Terlihat dari banyaknya bangunan mesjid yang berdiri di seluruh wilayah pemukiman suku Banten. Sebagian kecil adalah penganut agama tradisional Sunda, yaitu Wiwitan Sunda. Sedangkan sisanya memeluk agama Kristen.

Orang Banten, memiliki karakter yang agresif, cenderung memberontak, tapi memiliki pemikiran yang cerdas dan mudah bergaul dengan siapapun.

Kesultanan Banten adalah kesultanan yang besar dan terkenal di masa lalu. Mereka memiliki pasukan dan persenjataan yang kuat, sehingga Kesultanan Mataram yang menguasai hampir seluruh pulau Jawa tidak mampu mengalahkan mereka. Kekuasaan Kesultanan Banten meliputi sebagian wilayah Pasundan, hingga ke wilayah Lampung. Di antara unsur-unsur yang membentuk kebudayaan mereka, hampir tidak terdapat ciri-ciri peradaban Hindu-Jawa. Sebaliknya, pengaruh Islam sangat kuat.

Di wilayah Banten ini terdapat peninggalan budaya purbakala, yaitu "batu bersusun sembilan" yang tingginya mencapai 15 m, yang merupakan peninggalan jaman megalitik. Batu peninggalan zaman megalitik ini diperkirakan adalah peninggalan dari Kerajaan Salakanagara, sekitar tahun 130 M, yang didirikan oleh Dewawarman perantau dari Pallawa, Bharata (India).

Masyarakat suku Banten, pada umumnya hidup sebagai petani dan pengusaha.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • eocommunity.com

4 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. SAYA MAS JOKO WIDODO DI SURABAYA.
      DEMI ALLAH INI CERITA YANG BENAR BENAR TERJADI(ASLI)BUKAN REKAYASA!!!
      HANYA DENGAN MENPROMOSIKAN WETSITE KIYAI KANJENG DIMAS DI INTERNET SAYA BARU MERASA LEGAH KARNA BERKAT BANTUAN BELIU HUTANG PIUTAN SAYA YANG RATUSAN JUTA SUDAH LUNAS SEMUA PADAHAL DULUHNYA SAYA SUDAH KE TIPU 5 KALI OLEH DUKUN YANG TIDAK BERTANGUNG JAWAB HUTANG SAYA DI MANA MANA KARNA HARUS MENBAYAR MAHAR YANG TIADA HENTINGNYA YANG INILAH YANG ITULAH'TAPI AKU TIDAK PUTUS ASA DALAM HATI KECILKU TIDAK MUNKIN SEMUA DUKUN DI INTERNET PALSU AHIRNYA KU TEMUKAN NOMOR KIYAI KANJENG DI INTERNET AKU MENDAFTAR JADI SANTRI DENGAN MENBAYAR SHAKAT YANG DI MINTA ALHASIL CUMA DENGAN WAKTU 2 HARI SAJA AKU SUDAH MENDAPATKAN APA YANG KU HARAPKAN SERIUS INI KISAH NYATA DARI SAYA.....

      …TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA AKI KANJENG…

      **** BELIAU MELAYANI SEPERTI: ***
      1.PESUGIHAN INSTANT 10 MILYAR
      2.UANG KEMBALI PECAHAN 100rb DAN 50rb
      3.JUAL TUYUL MEMEK / JUAL MUSUH
      4.ANGKA TOGEL GHOIB.DLL..

      …=>AKI KANJENG<=…
      >>>085-320-279-333<<<






      SAYA MAS JOKO WIDODO DI SURABAYA.
      DEMI ALLAH INI CERITA YANG BENAR BENAR TERJADI(ASLI)BUKAN REKAYASA!!!
      HANYA DENGAN MENPROMOSIKAN WETSITE KIYAI KANJENG DIMAS DI INTERNET SAYA BARU MERASA LEGAH KARNA BERKAT BANTUAN BELIU HUTANG PIUTAN SAYA YANG RATUSAN JUTA SUDAH LUNAS SEMUA PADAHAL DULUHNYA SAYA SUDAH KE TIPU 5 KALI OLEH DUKUN YANG TIDAK BERTANGUNG JAWAB HUTANG SAYA DI MANA MANA KARNA HARUS MENBAYAR MAHAR YANG TIADA HENTINGNYA YANG INILAH YANG ITULAH'TAPI AKU TIDAK PUTUS ASA DALAM HATI KECILKU TIDAK MUNKIN SEMUA DUKUN DI INTERNET PALSU AHIRNYA KU TEMUKAN NOMOR KIYAI KANJENG DI INTERNET AKU MENDAFTAR JADI SANTRI DENGAN MENBAYAR SHAKAT YANG DI MINTA ALHASIL CUMA DENGAN WAKTU 2 HARI SAJA AKU SUDAH MENDAPATKAN APA YANG KU HARAPKAN SERIUS INI KISAH NYATA DARI SAYA.....

      …TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA AKI KANJENG…

      **** BELIAU MELAYANI SEPERTI: ***
      1.PESUGIHAN INSTANT 10 MILYAR
      2.UANG KEMBALI PECAHAN 100rb DAN 50rb
      3.JUAL TUYUL MEMEK / JUAL MUSUH
      4.ANGKA TOGEL GHOIB.DLL..

      …=>AKI KANJENG<=…
      >>>085-320-279-333<<<

      Delete
  2. Banten itu bukan nama suku, tapi nama daerah. (Secara De-Jure) Suku pribumi Banten itu adalah suku Sunda, yang sekarang ini berbicara dalam bahasa Sunda dialek Banten di wilayah selatannya; dan bahasa Jawa dialek Banten di wilayah utaranya (pantai utara).

    ReplyDelete
  3. Banten itu terdapat 3 suku asli. Pertama, suku Banten berbahasajJawa banten. Kedua, suku Sunda Banten berbahasa Sunda Banten. Dan ketiga, suku Baduy, yaitu suku prubumi wilayah banten yang mendiami wilayah banten selatan dengan bahasa Sunda Banten juga dengan kultur budaya yang khas.

    ReplyDelete