Suku Jawa Deli

Suku Jawa Deli, atau kadang disebut Jadel, merupakan suatu kelompok masyarakat yang sejak zaman penjajahan telah diangkut dari pulau Jawa sebagai buruh kontrak di perkebunan-perkebunan Sumatra Utara.

salah satu tradisi budaya suku Jawa Deli
Pada tahun 1863 Jacobus Nienhuijs seorang pengusaha firma Van De Arend membuka perkebunan Tembakau Deli. Nienhuijs melihat kawasan antara sungai Wampu dan sungai Ular merupakan daerah yang cocok untuk tanaman tembakau. Setelah mendapat konsesi sewa tanah selama 20 tahun dari Sultan Deli, Nienhuijs kemudian membuka perkebunan tembakau. Diawali dengan pekerja 23 buruh Melayu dan 88 buruh China. Namun, Nienhuijs hanya menghasilkan tembakau kering sebanyak 75 kilogram.

Melihat potensi tembakau yang dihasilkannya ternyata sangat baik, maka Nienhuijs berniat meluaskan areal perkebunannya. Akan tetapi, ia mengalami kesulitan mendapatkan tenaga kerja karena penduduk setempat menolak untuk bekerja sebagai buruh pada saat itu. Lalu Nienhuijs mendatangkan tenaga kerja kontrakan dari China dan Malaysia, India serta orang Tamil dari Negeri Penang.

Beberapa tahun kemudian, pemerintah China dan Inggris membuat peraturan ketat tentang tenaga kerja. Kebijakan ini lagi-lagi membuat Nienhuijs kesulitan mencari tenaga kerja untuk bekerja di perkebunannya. Tak ada pilihan, ia pun mendatangkan suku Jawa ke Sumatra Utara pada 1880 melalui calo dan kepala kebun sebagai buruh kontrak. Maklum, saat itu tenaga kerja dari pulau Jawa jauh lebih murah dibandingkan pegawai kontrak dari China. Oleh karena itu muncul beberapa istilah untuk menyebut orang Jawa Deli di Sumatra Utara, seperti "Jadel" singkatan dari "Jawa Deli" dan "Jakon" singkatan dari "Jawa Kontrak".

Kemudian Nienhuijs mendatangkan ribuan para pekerja dari pulau Jawa dan mendiami perkebunan- perkebunan tersebut. Pada masa awal sebagai buruh kontrak, mereka masih belum mampu mengembangkan dirinya secara baik. Mengingat masih terikat kontrak dan aturan yang dibuat pemerintah kolonial Belanda. Tapi pada masa pendudukan Jepang, ribuan masyarakat Jawa juga didatangkan dari pulau Jawa secara paksa untuk dijadikan sebagai buruh kerja paksa.

Namun, seiring waktu komunitas Jawa ini pun lama-lama terbiasa dengan lingkungan barunya. Selama lebih dari seratus tahun hingga saat ini komunitas Jawa di tanah Deli ini pun berkembang. Saat ini tidak saja di tanah Deli (sekarang kabupaten Deli Serdang), bahkan penyebaran mereka pun sampai ke tanah Langkat (sekarang kabupaten Langkat). Komunitas Jawa di tanah Deli dan Langkat pun berkembang pesat mengimbangi penduduk asli seperti suku Melayu dan berbagai etnis Batak lainnya.

Sebagian besar masyarakat Jawa Deli ini bekerja di perkebunan-perkebunan yang tersebar di Sumatra Utara.

Dalam masyarakat suku Jawa Deli, beberapa tradisi budaya suku Jawa tetap dipertahankan, hanya saja para generasi mudanya semakin banyak tidak memahami bahasa Jawa seutuhnya seperti di tanah asal mereka di pulau Jawa. Bahasa Jawa yang mereka gunakan sepertinya sudah tercampur dengan bahasa-bahasa setempat, sehingga muncullah istilah-istilah baru dalam perbendaharaan bahasa Jawa Deli.
Jadi janganlah heran apabila bertemu dengan seseorang di Sumatra Utara yang mengaku sebagai orang Jawa, tapi bahasa Jawa nya agak berbeda dengan bahasa Jawa aslinya.

Meski begitu, beberapa kesenian tradisional Jawa masih mampu bertahan dan menjadi salah satu bentuk hiburan masyarakat Jawa Deli. Seperti penuturan beberapa masyarakat suku Jawa Deli, “keluarga saya sudah ada campuran Batak, Aceh, Melayu dan China. Jadi, kebudayaannya itu sudah tidak murni lagi, sehingga minat dan kecintaannya sudah jauh berkurang dari sebelumnya”. Saat ini, untuk beberapa daerah komunitas Jawa, misalnya di kabupaten Deli Serdang masih ditemukan kegiatan kesenian tradisional Jawa. Namun, tidak sebanyak dan serutin sebelum-sebelumnya.

Masyarakat Jawa Deli sadar kesenian tradisional harus tetap dipertahankan. Salah seorang Tokoh Jawa Deliserdang Rasiman menyatakan, lunturnya kesenian Jawa disebabkan kurangnya minat generasi muda menggeluti kesenian ini. Budaya modern yang ditularkan melalui media televisi telah membuat anak muda tak lagi peduli budayanya“.

Suatu keunikan yang pada masyarakat Jawa Deli, walaupun pada dasarnya mereka mengaku sebagai suku Jawa, tapi dalam darah mereka menyatakan mereka adalah orang Medan. Beberapa dari mereka bahkan sudah tidak tahu lagi dari mana asal kampung mereka di Jawa. Ketika ditanya, "Jawa apa kau?", mereka hanya mengatakan "ya Jawa Deli laa". Seperti semboyan masyarakat Medan, bahwa "hidup matiku buat Medan". Untuk itulah muncul istilah "PUJAKESUMA" buat masyarakat Jawa Deli ini, yang berarti "Putra Jawa Kelahiran Sumatra Utara".  Bahkan beberapa generasi muda orang Jawa Deli memiliki logat kental gaya Medan mirip logat Batak atau logat Melayu.
Keunikan lain seperti dalam dukungan kepada tim sepakbola, mereka tidak mendukung team sepakbola yang berasal dari pulau Jawa, tapi mereka adalah pendukung sejati team sepak bola asal Sumatra Utara seperti PSMS Medan dan PSDS Deli Serdang.

Itulah keunikan masyarakat Jawa Deli di Sumatra Utara yang telah hadir di Sumatra Utara sejak tahun 1880, dan menjadi bagian kesatuan masyarakat Sumatra Utara.

referensi:

5 comments:

  1. Saya sangat berterimakasih atas penulisan ini, saya tertarik untuk survey

    bahasa Jawa di Deli Serdang. Saya sangat senang jika ada yang bersedia membantu saya jauh sebelum survey dilaksanakan, kepada siapa saya dapat korespondensi ? Terimakasih banyak.

    ReplyDelete
  2. saya adalah salah satu jawa deli...
    yang di ceritakan di atas sama persis dengan saya sebagai generasi kedua dari jawa deli.

    ReplyDelete
  3. saya adalah salah satu jawa deli...
    yang di ceritakan di atas sama persis dengan saya sebagai generasi kedua dari jawa deli.

    ReplyDelete
  4. Saksikan film "Senyap" di You TUbe, di sana, para pelakon dalam film itu adalah etnis Jawa Deli. Bertutur dalam bahasa Jawa khas Deli.

    ReplyDelete
  5. Di tahun 60 sd 70 an , aku yg asli jawa, kadang juga bingung ketika berkomunikasi dgn orang jadel, apalagi sekarang ya? Misal sepeda jadi " liring " , warung ( kedai ) disebut gede , lalu dibahasahaluskan menjadi " ageng.

    ReplyDelete