Showing posts with label Jawa. Show all posts
Showing posts with label Jawa. Show all posts

Asal Usul Orang Jawa

Orang Jawa, seperti yang diketahui adalah penduduk mayoritas di Indonesia. Tapi darimanakah asal-usul orang Jawa sebenarnya ? Ini yang menjadi banyak perbincangan dan banyak memunculkan spekulasi. Beberapa pendapat mengatakan bahwa orang Jawa berasal dari daratan Indochina, yang kemungkinan datang dari daerah Kamboja atau Laos dan kemungkinan lain diperkirakan berasal dari Vietnam. Tapi pendapat lain mengatakan bahwa orang Jawa kemungkinan datang dari daerah India, diduga dari wilayah India Selatan.

Sebelum menetap di pulau jawa kemungkinan orang jawa mempunyai sebutan lain untuk menyebutkan identitas kelompok etnis mereka, bukan "jawa" seperti sekarang, karena konon istilah "jawa" adalah nama pemberian orang asing yang menamakan pulau ini. Sehingga penduduk di pulau jawa ini disebut sebagai orang jawa.

sedang menumbuk menggunakan alu
Ada rumor mengatakan bahwa orang Jawa merupakan keturunan orang dari tanah Pasundan yang berkawin-campur dengan para pendatang dari India atau dari Indochina. Sedangkan menurut beberapa tulisan, pada pertengahan abad 3 M, orang Jawa mulai ada di pulau Jawa. Ditandai dengan hadirnya sebuah kerajaan Taruma pada abad 4.  Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berdiri di wilayah barat pulau Jawa pada abad 4 hingga abad 7 M. Kerajaan Taruma termasuk salah satu kerajaan tertua di wilayah Indonesia yang meninggalkan catatan sejarah. Ditemukan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan beraliran Hindu Wisnu. Ditemukan beberapa naskah yang diperkirakan ditulis pada abad 4. Tapi naskah-naskah ini meragukan dan mengundang polemik bagi para pakar sejarah yang meragukan naskah-naskah ini bisa dijadikan rujukan sejarah. Selain itu diduga kuat Kerajaan Taruma adalah kerajaan dari nenek moyang orang Sunda, dan bukan orang Jawa. Bahkan sempat muncul dugaan bahwa Kerajaan Taruma adalah suatu kerajaan yang didirikan oleh bangsa India yang hadir di wilayah pulau Jawa ini sejak abad ke 3 M.

perempuan jawa
Sedangkan orang Jawa diduga baru ada di wilayah ini sejak kehadiran bangsa-bangsa dari India maupun dari daratan Indochina, tapi sampai saat ini tidak diketahui secara pasti asal-usulnya dari mana. Dilihat dari tulisan sejarah, dan dari tradisi kebudayaan orang Jawa saat ini, kemungkinan besar orang Jawa berasal dari daratan Indochina, seperti dari Laos, Kamboja atau juga mungkin berasal dari Burma. Selain itu tradisi dan budaya Jawa juga banyak dipengaruhi budaya dari India, seperti pengaruh agama Hindu, sedangkan agama Budha sepertinya dibawa dari daratan Indochina. Pengaruh itu dapat dilihat dari tulisan-tulisan orang Jawa yang mengadopsi tulisan-tulisan kuno dari India, serta tradisi kisah pewayangan yang sebagian besar dari menyerap dari kisah pewayangan India.

Terlepas dari mana orang Jawa berasal, yang pasti orang Jawa saat ini sangat kuat dengan tradisi dan kebudayaan yang diusungnya. Terlepas itu entah berasal dari India atau dari daerah mana., orang Jawa telah menganggap itu sudah menjadi tradisi dan kebudayaan Jawa sendiri.


Rumpun Jawa

Suku Jawa, adalah suku bangsa yang memiliki jumlah terbesar di Indonesia. Hampir 40% dari total jumlah penduduk di Indonesia adalah orang Jawa. Orang Jawa terkonsentrasi di pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sejak adanya program pemerintah seperti Transmigrasi, maka orang Jawa pun tersebar ke beberapa daerah di Indonesia. Program Tenaga Kerja ke luar negeri juga membawa orang Jawa banyak tersebar ke luar negeri, seperti ke negeri jiran Malaysia, dan beberapa negara di Timur Tengah. Sekitar tahun 1880-an, orang Jawa juga banyak yang dibawa jauh menyeberang samudra, oleh pemerintah kolonial Belanda ke luar negeri, seperti ke Suriname.

Suku Jawa, saat ini banyak memiliki varian, yang terdiri dari beberapa kelompok kecil, walaupun mereka tetap mengaku dirinya sebagai orang Jawa, tetapi secara tradisi, bahasa, dan kehidupan terdapat perbedaan-perbedaan kecil. Mereka adalah:

pulau Jawa:

luar pulau Jawa:

luar Negeri:


diolah dari berbagai sumber

Orang Jawa Tongass Pasaman

Orang Jawa Tongass, adalah sekelompok pekerja yang berasal dari pulau Jawa, dibawa oleh Kolonial Belanda ke Suriname dan kembali ke Indonesia, tapi oleh pemerintah Indonesia tidak diperbolehkan kembali ke pulau Jawa, sehingga mereka diantar ke Sumatra Barat, tepatnya di daerah Pasaman.

Pada tahun 1880 sejumlah 32.965 pendatang Jawa pergi ke Suriname, lalu pada tahun 1953 sekitar 1.200 orang pulang ke Indonesia dan membangun pemukiman di Pasaman Sumatra Barat.

Pada tahun 1953 sekelompok orang Jawa yang pulang ke Indonesia menaiki kapal Langkuas dari Royal Rotterdam Lloyd, yang dipimpin oleh Salikin Hardjo. Saat itu sekitar 300 keluarga. Rencananya mereka akan kembali ke pulau Jawa, tapi permintaan mereka tidak diluluskan oleh Pemerintah Indonesia. Sebaliknya mereka diantar ke Sumatera Barat. Di Sumatra Barat, tepatnya di daerah Pasaman mereka mendirikan pemukiman, yaitu desa Tongass, sebelah utara dari bandar Padang. Mereka membersihkan lahan dan membanguna rumah-rumah tempat tinggal. Di tempat baru mereka terintegrasi lancar dengan komunitas Minangkabau, meskipun fakta bahwa kebanyakan dari mereka beragama Kristen. Terjadi beberapa perkawinan campur dengan penduduk asli Minangkabau yang pada umumnya beragama Islam. Pengaruh Islam Minangkabau cukup kuat mempengaruhi mereka, sehingga beberapa keluarga mereka yang meninggal dikebumikan di pemakaman Muslim.

Keturunan mereka sudah merasa sebagai orang Indonesia dari pada Suriname, namun mereka tetap mempertahankan hubungan dengan keluarga dan kawan-kawan mereka di Suriname dan Belanda. Kadang-kadang mereka melakukan perjalanan kembali ke Suriname maupun ke Belanda untuk menemui kerabat dan teman-teman mereka.

Saat ini suku Jawa Tongass berkembang dengan pesat, sehingga beberapa dari mereka mulai bergeser ke wilayah-wilayah lain di Pasaman. Beberapa dari mereka berbaur dengan masyarakat Jawa Transmigrasi di kecamatan Kinali. Penduduk di kecamatan Kinali sendiri mayoritas dihuni oleh masyarakat suku Batak Mandailing dan suku Minangkabau. Sedangkan masyarakat Jawa di daerah ini adalah para Transmigran yang hadir melalui program Transmigrasi sejak tahun 1960 sampai 1970. 

Suku Jawa Tondano

Suku Jawa Tondano, atau disebut juga sebagai Jaton, merupakan suatu kelompok masyarakat baru yang berada di kecamatan Tondano Utara kabupaten Minahasa provinsi Sulawesi Utara di Indonesia.

suku Jawa Tondano
Wilayah pemukiman masyarakat suku Jawa Tondano berada di sebelah utara danau Tondano dan berjarak sekitar 65 km arah selatan kota Manado. Suku Jawa Tondano memiliki perkampungan yang bernama kampung Jawa Tondano.

Pada awal kehadiran masyarakat Jawa di kampung Tondano ini adalah sekelompok masyarakat Jawa yang ditangkap dan diasingkan sebagai tahanan politik oleh tentara kolonial Belanda pada tahun 1828 beserta Panglima Perang mereka ketika berlangsungnya Perang Jawa (1825-1830), dan pada tahun 1829 menyusul Kyai Modjo beserta 63 orang pengikutnya, mereka semua ditangkap dan diasingkan sebagai tahanan politik ke Minahasa Sulawesi Utara. Kyai Modjo meninggal di sana pada tahun 1848 dalam usia 84 tahun. Pengikut Kyai Modjo yang semuanya laki-laki tinggal menetap di Minahasa dan melakukan kawin mawin dengan para perempuan asli Tondano dan keturunan mereka mendiami kampung yang saat ini dikenal dengan Kampung Jawa Tondano. Selain itu juga datang ke wilayah ini tahanan politik lain yang berasal dari Sumatra, Kalimantan dan Maluku. Termasuk Pangeran Perbatasari dari Kerajaan Banjar yang ditangkap Belanda saat berada di Kutai untuk meminta bantuan perang pada tahun 1885.

Penduduk Kampung Jawa Tondano sendiri, sebenarnya bukanlah seluruhnya masyarakat dari pulau Jawa, tapi berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti dari Sumatra (Palembang, Sumatra Utara dan Aceh), Kalimantan (suku Banjar), Maluku dan suku Arab Indonesia. Masyarakat suku Jawa Tondano adalah hasil dari percampuran etnis dengan saling kawin campur dan saling mempengaruhi dalam budaya dan kesenian di kampung Jawa Tondano. Karena mayoritas dari mereka awalnya adalah masyarakat dari pulau Jawa, oleh karena itu lah kampung mereka pun lebih dikenal dengan nama kampung Jawa Tondano. 

gadis-gadis Jawa Tondano
Masyarakat kampung Jawa Tondano, mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Agama Islam adalah agama yang mereka bawa dari daerah asalnya. Walaupun saat ini terdapat sebagian kecil yang telah memeluk agama Kristen. Tapi agama Islam tetap menjadi agama yang kuat di kalangan masyarakat suku Jawa Tondano. Perbedaan agama di antara mereka tidak menjadi masalah buat mereka, dan mereka hidup rukun dan saling menghargai.

Sedangkan bahasa yang mereka pakai yang pada awalnya didominasi oleh bahasa Jawa, tapi secara perlahan-lahan bahasa mereka pun agak terkikis oleh bahasa Manado (Melayu Manado). Saat ini para generasi muda masyarakat kampung Jawa Tondano lebih suka berbicara dalam bahasa Manado.

penduduk kampung Jawa Tondano
Seiring perkembangan zaman, masyarakat suku Jawa Tondano pun menyebar ke luar daerah Tondano, dan mendirikan perkampungan di daerah lain. Saat ini paling banyak justru berada di wilayah Gorontalo. Dilihat dari penyebarannya sepertinya mereka lebih memilih ke wilayah Gorontalo.
Penyebaran masyarakat suku Jawa Tondano, tersebar ke beberapa wilayah lain, yaitu:
  • kampung Rejonegoro, berada di kabupaten Gorontalo provinsi Gorontalo
  • kampung Reksonegoro, berada di kecamatan Tibawa kabupaten Gorontalo provinsi Gorontalo
  • kampung Mulyonegoro, berada di kecamatan Pulubala kabupaten Gorontalo provinsi Gorontalo
  • kampung Yosonegoro, berada di kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo
  • kampung Rejonegoro, berada di kabupaten Gorontalo provinsi Gorontalo
  • kampung Salilama, berada di kecamatan Mananggu kabupaten Boalemo provinsi Gorontalo
  • kampung Kaliyoso, berada di kecamatan Bongomeme kabupaten Gorontalo provinsi Gorontalo
  • kampung Bandungredjo, berada di kecamatan Boliyohuto kabupaten Gorontalo provinsi Gorontalo
  • kampung Ikhwan, berada di kecamatan Dumoga Barat kabupaten Bolaang Mongondow provinsi Sulawesi Utara
  • kampung Bojonegoro, berada di kecamatan Maesaan kabupaten Minahasa Selatan provinsi Sulawesi Utara

referensi:

Suku Jawa Deli

Suku Jawa Deli, atau kadang disebut Jadel, merupakan suatu kelompok masyarakat yang sejak zaman penjajahan telah diangkut dari pulau Jawa sebagai buruh kontrak di perkebunan-perkebunan Sumatra Utara.

salah satu tradisi budaya suku Jawa Deli
Pada tahun 1863 Jacobus Nienhuijs seorang pengusaha firma Van De Arend membuka perkebunan Tembakau Deli. Nienhuijs melihat kawasan antara sungai Wampu dan sungai Ular merupakan daerah yang cocok untuk tanaman tembakau. Setelah mendapat konsesi sewa tanah selama 20 tahun dari Sultan Deli, Nienhuijs kemudian membuka perkebunan tembakau. Diawali dengan pekerja 23 buruh Melayu dan 88 buruh China. Namun, Nienhuijs hanya menghasilkan tembakau kering sebanyak 75 kilogram.

Melihat potensi tembakau yang dihasilkannya ternyata sangat baik, maka Nienhuijs berniat meluaskan areal perkebunannya. Akan tetapi, ia mengalami kesulitan mendapatkan tenaga kerja karena penduduk setempat menolak untuk bekerja sebagai buruh pada saat itu. Lalu Nienhuijs mendatangkan tenaga kerja kontrakan dari China dan Malaysia, India serta orang Tamil dari Negeri Penang.

Beberapa tahun kemudian, pemerintah China dan Inggris membuat peraturan ketat tentang tenaga kerja. Kebijakan ini lagi-lagi membuat Nienhuijs kesulitan mencari tenaga kerja untuk bekerja di perkebunannya. Tak ada pilihan, ia pun mendatangkan suku Jawa ke Sumatra Utara pada 1880 melalui calo dan kepala kebun sebagai buruh kontrak. Maklum, saat itu tenaga kerja dari pulau Jawa jauh lebih murah dibandingkan pegawai kontrak dari China. Oleh karena itu muncul beberapa istilah untuk menyebut orang Jawa Deli di Sumatra Utara, seperti "Jadel" singkatan dari "Jawa Deli" dan "Jakon" singkatan dari "Jawa Kontrak".

Kemudian Nienhuijs mendatangkan ribuan para pekerja dari pulau Jawa dan mendiami perkebunan- perkebunan tersebut. Pada masa awal sebagai buruh kontrak, mereka masih belum mampu mengembangkan dirinya secara baik. Mengingat masih terikat kontrak dan aturan yang dibuat pemerintah kolonial Belanda. Tapi pada masa pendudukan Jepang, ribuan masyarakat Jawa juga didatangkan dari pulau Jawa secara paksa untuk dijadikan sebagai buruh kerja paksa.

Namun, seiring waktu komunitas Jawa ini pun lama-lama terbiasa dengan lingkungan barunya. Selama lebih dari seratus tahun hingga saat ini komunitas Jawa di tanah Deli ini pun berkembang. Saat ini tidak saja di tanah Deli (sekarang kabupaten Deli Serdang), bahkan penyebaran mereka pun sampai ke tanah Langkat (sekarang kabupaten Langkat). Komunitas Jawa di tanah Deli dan Langkat pun berkembang pesat mengimbangi penduduk asli seperti suku Melayu dan berbagai etnis Batak lainnya.

Sebagian besar masyarakat Jawa Deli ini bekerja di perkebunan-perkebunan yang tersebar di Sumatra Utara.

Dalam masyarakat suku Jawa Deli, beberapa tradisi budaya suku Jawa tetap dipertahankan, hanya saja para generasi mudanya semakin banyak tidak memahami bahasa Jawa seutuhnya seperti di tanah asal mereka di pulau Jawa. Bahasa Jawa yang mereka gunakan sepertinya sudah tercampur dengan bahasa-bahasa setempat, sehingga muncullah istilah-istilah baru dalam perbendaharaan bahasa Jawa Deli.
Jadi janganlah heran apabila bertemu dengan seseorang di Sumatra Utara yang mengaku sebagai orang Jawa, tapi bahasa Jawa nya agak berbeda dengan bahasa Jawa aslinya.

Meski begitu, beberapa kesenian tradisional Jawa masih mampu bertahan dan menjadi salah satu bentuk hiburan masyarakat Jawa Deli. Seperti penuturan beberapa masyarakat suku Jawa Deli, “keluarga saya sudah ada campuran Batak, Aceh, Melayu dan China. Jadi, kebudayaannya itu sudah tidak murni lagi, sehingga minat dan kecintaannya sudah jauh berkurang dari sebelumnya”. Saat ini, untuk beberapa daerah komunitas Jawa, misalnya di kabupaten Deli Serdang masih ditemukan kegiatan kesenian tradisional Jawa. Namun, tidak sebanyak dan serutin sebelum-sebelumnya.

Masyarakat Jawa Deli sadar kesenian tradisional harus tetap dipertahankan. Salah seorang Tokoh Jawa Deliserdang Rasiman menyatakan, lunturnya kesenian Jawa disebabkan kurangnya minat generasi muda menggeluti kesenian ini. Budaya modern yang ditularkan melalui media televisi telah membuat anak muda tak lagi peduli budayanya“.

Suatu keunikan yang pada masyarakat Jawa Deli, walaupun pada dasarnya mereka mengaku sebagai suku Jawa, tapi dalam darah mereka menyatakan mereka adalah orang Medan. Beberapa dari mereka bahkan sudah tidak tahu lagi dari mana asal kampung mereka di Jawa. Ketika ditanya, "Jawa apa kau?", mereka hanya mengatakan "ya Jawa Deli laa". Seperti semboyan masyarakat Medan, bahwa "hidup matiku buat Medan". Untuk itulah muncul istilah "PUJAKESUMA" buat masyarakat Jawa Deli ini, yang berarti "Putra Jawa Kelahiran Sumatra Utara".  Bahkan beberapa generasi muda orang Jawa Deli memiliki logat kental gaya Medan mirip logat Batak atau logat Melayu.
Keunikan lain seperti dalam dukungan kepada tim sepakbola, mereka tidak mendukung team sepakbola yang berasal dari pulau Jawa, tapi mereka adalah pendukung sejati team sepak bola asal Sumatra Utara seperti PSMS Medan dan PSDS Deli Serdang.

Itulah keunikan masyarakat Jawa Deli di Sumatra Utara yang telah hadir di Sumatra Utara sejak tahun 1880, dan menjadi bagian kesatuan masyarakat Sumatra Utara.

referensi:

Suku Jawa Suriname

Suku Jawa Suriname, adalah suatu kehadiran kelompok masyarakat baru yang berasal dari kepulauan Indonesia sekitar akhir abad 19, yang dibawa oleh pemerintah Belanda yang pada saat itu menguasai Suriname di Amerika Selatan. Negara Suriname memerlukan tenaga kerja untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan.

kuli kontrak Jawa dalam perjalanan ke Suriname
sumber wulanwahyuning
Para pekerja perkebunan di Suriname sebelumnya dikerjakan oleh para budak Negro dari Afrika. Setelah perbudakan dihapuskan, para budak Negro berduyun-duyun meninggalkan perkebunan dan menuju kota-kota di Suriname. Para orang-orang Negro ini disebut sebagai Kreol Suriname. Akibatnya perkebunan tersebut pun kosong dan tidak memiliki pekerja.
Setelah kepergian para budak Negro yang telah hidup bebas tersebut, maka digantikan para kuli kontrak dari Tionghoa dan India yang disebut sebagai Hindustan Suriname. Tapi sepertinya perkebunan tetap kekurangan tenaga kerja, dan akhirnya pemerintah Belanda mengambil pekerja baru ke Hindia Belanda (kini Indonesia) dengan sistem razia dan dipaksa dikapalkan ke Suriname. Para pekerja paksa dari Indonesia ini mayoritas dari pulau Jawa tepatnya dari etnis Jawa dan Sunda, yang kebanyakan dari mereka adalah para petani buta aksara. Antara tahun 1890–1939, terdapat lebih dari 33.000 jiwa orang Jawa yang dibawa ke Suriname.

Suriname adalah sebuah Negara Republik yang berbatasan dengan Guyana Perancis di Timur dan Guyana di Barat, di selatan Suriname berbatasan dengan Brasil dan di selatannya terdapat Samudra Atlantik, dan berada di Amerika Selatan. Suriname dengan Ibukotanya Paramaribo, memproklamasikan kemerdekaannya dari Belanda pada tanggal 25 November 1975, 36 Tahun yang lalu, dengan jumlah penduduk berdasarkan sensus penduduk 2004 berjumlah 487.024 dengan kepadatan penduduk 3 orang/km2 yang mendiami Negara Republik Suriname seluas 160.273 Km2, yang terbagi dalam 10 Districk, Negara Republik Suriname dipimpin oleh seorang Presiden.

Sebagaimana telah diketahui sebelumnya bahwa para pekerja paksa yang berasal dari Indonesia (mayoritas suku Jawa) bermukim di Suriname sejak tahun 1880. Ribuan tenaga kerja yang direkrut oleh Belanda sebenarnya bukanlah seluruhnya dari etnis Jawa, tapi dari berbagai macam suku etnis di Indonesia di wilayah luar pulau Jawa juga direkrut.

Dari total 32.965 imigran Jawa di Suriname, pada tahun 1954 sebanyak 8684 orang Jawa kembali ke Indonesia. Pada Sensus tahun 1972 terdapat sebanyak 57.688 orang Jawa di suriname, dan pada tahun 2004 ada 71.879 orang. Pada tahun 2004 terdapat lebih dari 60.000 orang keturunan campuran, lalu kemudian tidak diketahui lagi jumlah pasti keturunan Jawa di Suriname.

Pada tahun 1953 sekelompok besar 300 keluarga (1.200 orang), yang dipimpin oleh Saikin Hardjo, kembali ke Indonesia pada Langkuas kapal dari Royal Rotterdam Lloyd. Mereka berniat untuk pulang ke pulau Jawa, tapi permintaan mereka tidak disetujui oleh pemerintah Indonesia, dan sebagai gantinya mereka dikirim ke Sumatra Barat. Mereka membersihkan tanah, membangun rumah dan mendirikan desa Tongass di kabupaten Pasaman. Mereka terintegrasi lancar dengan masyarakat Minangkabau, meskipun fakta bahwa sebagian besar orang Jawa beragama Kristen, terjadi perkawinan dengan Minangkabau yang pada umumnya muslim. Generasi mereka saat ini dikatakan merasa lebih Indonesia daripada Suriname, tapi tetap mempertahankan hubungan dengan keluarga dan teman-teman di Suriname dan Belanda, kadang-kadang mereka berkunjung kembali ke negara-negara tersebut.

Pada tahun 1970-an sebanyak 20.000-25.000 Jawa Suriname pergi ke Belanda. Mereka menetap terutama di sekitar kota-kota seperti Groningen, Amsterdam, Rotterdam dan Zoetermeer. Mereka terintegrasi dengan baik ke dalam masyarakat Belanda, tetapi tetap mempertahankan identitas Jawa melalui asosiasi dan pertemuan yang diselenggarakan secara teratur. Sebagian besar di antara mereka masih memiliki kerabat di Suriname dan mengirim paket dan uang, dan secara teratur mengunjungi suriname.

beberapa tradisi adat Jawa
tetap dipertahankan 
Di Suriname orang Indonesia tersebar di beberapa tempat dan kampung yang gampang dikenali karena kampung mereka masih menggunakan nama-nama dalam bahasa Indonesia seperti desa Tamansari, desa Tamanrejo dan semacam itu. Untuk mengingat akan Tanah Air Indonesia selain dengan menggunakan nama pemukiman mereka dengan bahasa Indonesia, sedangkan bahasa yang digunakan oleh masyarakat Indonesia ini adalah bahasa Jawa. Walau ada beberapa dialek yang kurang pas kedengarannya di telinga, itu disebabkan oleh pengaruh bahasa Belanda dan bahasa Tongo, namun hanya pada dialek saja yang nampak lucu namun akan dapat dimengerti dengan baik oleh orang Indonesia bila mendengarnya. Fonologi bahasa Jawa Suriname menggunakan dialek Kedu yang menjadi bahasa induk Warga Negara Suriname asal Indonesia yang tentunya tak jauh berbeda dengan bahasa Jawa yang baku.

Ketua Parlemen Suriname Paul Slamet Somoharjo akrab disapa sebagai Soemoharjo yang terpilih menjadi Ketua parlemen sejak 30 Juni 2005 sampai saat ini , lahir di Ibukota Suriname Paramaribo 68 tahun yang lalu tepatnya 2 Mei 1943, beliau ini adalah Warga Negara Suriname keturunan Etnis Jawa, bayangkan nama Partainyapun menggunakan bahasa Indonesia yaitu Partai Pertjaja Luhur yang beranggotakan Warga Negara Suriname Asal Indonesia. Ada beberapa pejabat Pemerintahan, dan Tentara, serta pejabat lainnya yang juga berasal dari etnis Jawa.

sumber:

Suku Betawi

suku Betawi
Suku Betawi, adalah suku penduduk asli yang mendiami kota Jakarta, ibukota Indonesia. Populasi suku Betawi diperkirakan lebih dari 3 juta orang.

Suku Betawi merupakan satu-satunya suku yang termasuk bagian dari rumpun Melayu, karena adat-istiadat serta bahasa yang digunakan oleh suku Betawi adalah tergolong dalam budaya Melayu.

Orang Betawi pada umumnya adalah penganut agama Islam. Terdapat juga kelompok penganut agama Kristen Protestan dan Kristen Katolik dengan jumlah yang kecil. Orang Betawi yang beragama Kristen, sebagian adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Komunitas orang Betawi Kristen ini sekarang terpusat di daerah Kampung Tugu Jakarta Utara.

Orang Betawi memiliki jiwa sosial yang tinggi. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua kepada anak-anaknya. Mereka juga sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta. Orang Betawi terkenal karena suka bercanda dan ceplas-ceplos dalam berbicara

Masyarakat suku Betawi, merupakan percampuran dari segala suku-bangsa yang pada awalnya bermukim di wilayah Betawi ini. Menurut beberapa anggapan bahwa pada awalnya para pendatang dari Melayu Deli dan Melayu Riau, bermigrasi ke wilayah ini dengan kapal-kapal dagang dalam tujuan berdagang, mereka menetap dan melakukan perkawinan campur dengan penduduk asli, yaitu masyarakat suku Sunda sebagai penghuni pertama di wilayah ini. Setelah membentuk pemukiman, wilayah ini berkembang menjadi daerah yang maju. Karena daerah ini termasuk daerah yang penting, maka berdatanganlah berbagai suku bangsa lain ke daerah ini, seperti suku Jawa dan suku-suku pedagang dari luar, seperti Arab, India, Tionghoa dan Eropa. Berbagai suku-bangsa dari luar ini melakukan perkawinan campur dengan penduduk di daerah ini, yang akhirnya semua berbaur dalam adat-istiadat Melayu. Pengaruh budaya dan bahasa Melayu sungguh kuat di daerah ini sehingga terbentuklah adat-istiadat dan komunitas yang disebut Melayu Betawi. Setelah itu banyak suku-suku pendatang lain yang datang dan ikut berbaur dalam komunitas Melayu Betawi ini, seperti suku Bugis, Makassar, Ambon, Batak, Melayu dan lain-lain, yang semua menyatu dalam budaya Melayu Betawi.

Istilah "Betawi", berasal dari kata "Batavia" nama wilayah ini sebelum "Jakarta", pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, awalnya digunakan untuk menyebut penduduk yang menghuni seputar wilayah Jakarta, sekitar tahun 1923.

Masyarakat Melayu Betawi ini berbicara dalam bahasa Melayu Betawi. Bahasa Melayu Betawi digolongkan sebagai bahasa Melayu Kreol. Bahasa Melayu Kreol, adalah bahasa yang berakar dari bahasa Melayu, tetapi mengalami percampuran bahasa dari berbagai bahasa.

Istilah nama Betawi diduga muncul sekitar tahun 1923, karena sebelumnya, orang-orang di wilayah Betawi ini belum mengakarnya istilah kesatuan etnis Betawi. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri sesuai tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.
Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Saat itulah, orang-orang yang bermukim di wilayah Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Ada pendapat mengatakan bahwa orang Betawi pada umumnya berasal dari masyarakat yang berada di luar benteng Batavia, yang menggunakan bahwa Melayu, yang berasal dari Sumatera. Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera, hal ini yang menyebabkan kalau etnis Sunda yang bermukim di pelabuhan Sunda Kalapa, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional. Berdasarkan penelitian, bahwa DNA orang Betawi sama dengan DNA orang Melayu Sumatra.

Budaya Betawi merupakan budaya mestizo, atau sebuah campuran budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Hindia Belanda, Batavia (kini Jakarta) merupakan ibu kota Hindia Belanda yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Sunda, Jawa, Batak, Bugis dan Minang. Selain itu budaya Betawi juga menyerap budaya luar, seperti budaya Arab, Tionghoa, India, dan Portugis.

Kesenian budaya Betawi, berakar dari berbagai jenis budaya, seperti:
Ondel-Ondel
  • Gambang Kromong, yang berasal dari seni musik Tionghoa
  • Rebana, yang berakar pada tradisi musik Arab
  • Keroncong Tugu, dengan latar belakang Portugis
  • Tanjidor, yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. 
  • Lenong, yang berakar dari budaya Melayu Sumatra.
  • Tari Topeng Betawi, berakar dari budaya Sunda
  • Yapong, yang berakar dari budaya tari Jaipong Sunda
  • Ondel-Ondel
  • Cokek

Suku Betawi juga memiliki beberapa cerita rakyat, yaitu:
  • Si Pitung
  • Si Abang Jampang, yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal keras
  • Nyai Dasima, yang menggambarkan kehidupan masyarakat Betawi pada zaman kolonial
  • Mirah dari Marunda
  • Murtado Macan Kemayoran
  • Juragan Boing

Masyarakat suku Betawi, saat ini memiliki profesi yang beragam, seperti menjadi petani kembang, bertani dan berkebun, menjadi guru, pedagang dan pembatik. Selain itu banyak juga yang telah bekerja di sektor pemerintahan dan berbagai sektor swasta.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • samlloris.blogspot.com
  • semuakartun.blogspot.com

Suku Jawa

suku Jawa
Suku Jawa, adalah salah satu suku yang terdapat di Indonesia, dan merupakan suku yang memiliki populasi terbesar di pulau Jawa, bahkan di Indonesia. Populasi suku Jawa diperkirakan lebih dari 40% dari total jumlah penduduk Indonesia, yaitu sekitar 100 juta orang.

Suku Jawa hampir ada di segala penjuru Indonesia, mulai dari daerah provinsi Sumatra Utara hingga ke wilayah paling timur Indonesia, yaitu provinsi Papua.

Suku Jawa pada awalnya bukanlah suku perantau, tapi sejak masa penjajahan Belanda, banyak orang Jawa yang dipindahkan sebagai buruh yang ditempatkan di beberapa daerah, seperti pertama kali di Sumatra Utara, sebagai buruh-buruh kontrak di perkebunan, yang dilanjutkan ke daerah-daerah lain. Selain itu pada zaman Suharto, banyak orang Jawa yang dipindahkan dari tempat asalnya, ke daerah-daerah lain di Indonesia, seperti ke Lampung-Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain. Populasi orang Jawa yang begitu besar, membuat banyak orang Jawa yang berada di bawah garis kemiskinan.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, sekolompok orang Jawa pernah dibawa ke Suriname di Amerika Selatan, sebagai buruh pekerja paksa, yang akhirnya tetap menetap di negara tersebut hingga saat ini, dan membentuk suatu komunitas tersendiri di Suriname sebagai etnis Jawa, yang tetap mempertahankan adat-istiadat serta budaya Jawa.

Orang Jawa terkenal karena keramahan dan sopan santun apabila berbicara dengan orang lain. Mereka juga tidak mudah tersinggung dalam menghadapi orang lain, mereka juga suka bercanda dan periang, serta bisa menempatkan diri di hadapan kelompok etnis lain. Karena sifat dan karakter seperti ini lah yang membuat mereka bisa hidup dan berbaur dengan suku bangsa dari mana saja.

Orang Jawa berbicara dalam bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari, tapi mereka juga bisa berbicara dalam bahasa Indonesia dengan dialek yang kental, untuk berkomunikasi dengan suku-suku lain. Masyarakat suku Jawa yang telah bermukim di luar pulau Jawa, seperti di Sumatra Utara dan yang terdapat di daerah Tondano provinsi Sulawesi Utara, para generasi mudanya kebanyakan sudah tidak bisa berbahasa Jawa lagi, mereka cenderung menggunakan bahasa-bahasa dan dialek setempat.

Dalam bahasa Jawa, pada dasarnya terdiri dari 3 kasta bahasa, yaitu:
  • Ngoko (kasar)
  • Madya (biasa)
  • Krama (halus)

Dalam bahasa Jawa penggunaan tingkatan bahasa tersebut, tergantung status yang bersangkutan dan lawan bicara. Status bisa ditentukan oleh usia, posisi sosial, atau hal-hal lain. Seorang anak yang bercakap-cakap dengan sebayanya akan berbicara dengan varian ngoko, namun ketika bercakap dengan orang tuanya akan menggunakan krama andhap dan krama inggil. Sistem semacam ini masih dipakai di Surakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Dialek lainnya cenderung kurang memegang erat tata-tertib berbahasa semacam ini.

Terdapat juga bentuk bagongan dan kedhaton, yang hanya dipakai sebagai bahasa pengantar di lingkungan keraton. Dengan demikian, dikenal bentuk-bentuk ngoko lugu, ngoko andhap, madhya, madhyantara, krama, krama inggil, bagongan dan kedhaton.

contoh kalimat:
  • Bahasa Indonesia, "maaf, saya mau tanya rumah Budi itu, di mana?"
  • Ngoko kasar, “eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
  • Ngoko alus, “aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
  • Ngoko meninggikan diri sendiri, “aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?” (ini dianggap salah oleh sebagian besar penutur bahasa Jawa karena menggunakan leksikon krama inggil untuk diri sendiri)
  • Madya, “nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?” (ini krama desa (substandar))
  • Madya alus, “nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?” (ini juga termasuk krama desa (krama substandar))
  • Krama andhap, “nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?” (dalem itu sebenarnya pronomina persona kedua, kagungan dalem 'kepunyaanmu'. Jadi ini termasuk tuturan krama yang salah alias krama desa)
  • Krama lugu, “nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
  • Krama alus, “nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”

Masyarakat suku Jawa sebagian besar memeluk agama Islam. Sebagian lain memeluk agama Kristen Protestan dan Kristen Katolik, sebagian kecil tetap mempertahankan agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai Kejawen. Sedangkan sisanya memeluk agama Hindu dan Buddha. Dalam masyarakat Jawa memiliki sifat sinkretisme kepercayaannya. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur.

Dalam kehidupan orang Jawa, terutama yang berada di Jawa Tengah dan D.I. Jogjakarta, dikenal 3 golongan sosial, yaitu:
  • Santri, santri adalah penganut agama Islam yang taat
  • Abangan, abangan adalah penganut Islam secara nominal atau penganut Kejawen
  • Priyayi, adalah kaum bangsawan

Wayang Jawa
Dalam kehidupan orang Jawa banyak memiliki budaya seni yang dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha, salah satunya adalah wayang yang berisi cerita-cerita dari India, yaitu Ramayana, Mahabrata dan Bratayudha. Selain itu ada seni batik dan musik gamelan.

Masyarakat suku Jawa pada umumnya memiliki profesi sebagai petani. Kehidupan petani sangat kental dan tradisi orang Jawa, terutama yang hidup di pedesaan. Padi menjadi tanaman utama bagi masyarakat suku Jawa, selain itu mereka juga menanam berbagai jenis sayur-sayuran serta buah-buahan. Mereka juga menanam tembakau, cengkeh, kelapa, tebu, dan lain-lain.
Masyarakat suku Jawa yang tinggal di perkotaan, memiliki profesi yang beragam, bagi yang berpendidikan rendah menjadi pedagang, buruh bangunan. Sedangkan yang memiliki pendidikan lebih baik, biasanya menjadi pegawai di kantor-kantor pemerintah dan kantor-kantor swasta. Selain itu banyak juga orang Jawa yang mencari penghidupan di luar negeri, seperti menjadi TKI di Malaysia dan daerah timur tengah.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • mengenalbudayajawa.blogspot.com
  • pannyuppy.blogspot.com

Suku Banten

Suku Banten, adalah suatu komunitas masyarakat yang mendiami provinsi Banten. Populasi suku Banten ini diperkirakan lebih dari 4 juta orang.

suku Banten
Suku Banten berbicara dalam bahasa Banten, yang termasuk salah satu dialek dari bahasa Sunda. Bahasa Banten sendiri, bagi masyarakat Sunda, dianggap sebagai bahasa yang kasar. Bahasa Banten sebenarnya adalah bahasa Sunda kuno, sebagai bahasa yang diucapkan oleh masyarakat Sunda pada masa lalu. Sedangkan bahasa Sunda yang sekarang ini adalah termasuk bahasa yang banyak dipengaruhi oleh bahasa dan tradisi hindu, yang menerapkan sistem kasta, atau pada masa kesultanan Jawa pada masa lalu, seperti bahasa Jawa halus-kasar.
Selain itu dalam bahasa Banten, tidak mengenal istilah bahasa lemes dan kasar, karena wilayah Banten sendiri tidak pernah dikuasai oleh Kesultanan Mataram yang mengenal kasta (tingkatan) bahasa lemes (halus) atau kasar, seperti yang berlaku di daerah kekuasaan Mataram.

Istilah "banten" sudah ada jauh sebelum hadirnya Kesultanan Banten, yang berasal dari nama sebuah sungai dan nama daerah, yaitu Cibanten atau sungai Banten. Kata "banten", tertulis dalam naskah Sunda Kuno Bujangga Manik, yang menyebutkan nama-nama tempat di Banten, yaitu:

"tanggeran Labuhan Ratu.
Ti kaler alas Panyawung,
tanggeran na alas Banten"

Jadi istilah "banten", sejak dahulu memang sudah dikenal di wilayah Banten ini. Dipastikan daerah ini sejak dahulu, jauh sebelum kehadiran Kesultanan Banten, daerah ini telah bernama "Banten". Berdasarkan riset yang dilakukan di Banten Girang pada tahun 1988 dalam program Franco-Indonesian excavations, di daerah ini telah ada pemukiman sajak abad ke 11 sampai 12 (saat kerajaan Sunda). Berdasarkan riset ini juga diketahui bahwa daerah ini berkembang pesat pada abad ke-16 saat Islam masuk pertama kali di wilayah ini. Perkembangan pemukiman ini kemudian meluas ke arah Serang dan ke arah pantai. Di daerah pantai inilah kemudian didirikan Kesultanan Banten oleh Sunan Gunung Jati. Kesultanan Banten ini pada masa pemerintahan kolonial Belanda, dirubah menjadi keresidenan.

Pada awalnya orang-orang asing menyebut orang yang berdiam di wilayah ini sebagai "bantenese" atau "orang banten", baru setelah masa kemerdekaan, ditinjau dari kesatuan etnik dan budaya yang berbeda dengan budaya lain, maka orang-orang Banten ini pun disebut sebagai suku Banten.

Suku Banten memiliki berbagai jenis kesenian tradisional. Salah satunya adalah "debus". Debus, adalah suatu kesenian yang mengandung unsur magic atau mistis, yaitu dengan menusukkan benda-benda tajam ke tubuh si pelaku debus ini. Si pelaku, terlebih dahulu seperti kerasukan sambil memegang benda-benda tajam seperti besi tajam, pisau, lalu menusukkan ke bagian-bagian tubuh si pelaku. Kesenian "debus" ini mirip dengan suatu kesenian dari daerah Aceh, yang juga melakukan kegiatan ritual menyakiti tubuh, yang konon katanya atas seizin Allah. Jadi, kalau Allah mengizinkan, maka pisau, golok, parang atau peluru sekalipun tidak akan melukai mereka. Di Banten pada awalnya kesenian "debus" ini berfungsi untuk menyebarkan ajaran Islam. Namun, saat ini, kesenian debus ini hanya berfungsi sebagai sarana hiburan semata.

Masyarakat suku Banten, sebagian besar adalah penganut agama Islam. Agama Islam tumbuh begitu kuat dalam kehidupan masyarakat suku Banten. Orang Banten dikenal sebagai penganut Islam yang fanatik. Pengaruh Islam sangat kuat dalam kehidupan suku Banten. Terlihat dari banyaknya bangunan mesjid yang berdiri di seluruh wilayah pemukiman suku Banten. Sebagian kecil adalah penganut agama tradisional Sunda, yaitu Wiwitan Sunda. Sedangkan sisanya memeluk agama Kristen.

Orang Banten, memiliki karakter yang agresif, cenderung memberontak, tapi memiliki pemikiran yang cerdas dan mudah bergaul dengan siapapun.

Kesultanan Banten adalah kesultanan yang besar dan terkenal di masa lalu. Mereka memiliki pasukan dan persenjataan yang kuat, sehingga Kesultanan Mataram yang menguasai hampir seluruh pulau Jawa tidak mampu mengalahkan mereka. Kekuasaan Kesultanan Banten meliputi sebagian wilayah Pasundan, hingga ke wilayah Lampung. Di antara unsur-unsur yang membentuk kebudayaan mereka, hampir tidak terdapat ciri-ciri peradaban Hindu-Jawa. Sebaliknya, pengaruh Islam sangat kuat.

Di wilayah Banten ini terdapat peninggalan budaya purbakala, yaitu "batu bersusun sembilan" yang tingginya mencapai 15 m, yang merupakan peninggalan jaman megalitik. Batu peninggalan zaman megalitik ini diperkirakan adalah peninggalan dari Kerajaan Salakanagara, sekitar tahun 130 M, yang didirikan oleh Dewawarman perantau dari Pallawa, Bharata (India).

Masyarakat suku Banten, pada umumnya hidup sebagai petani dan pengusaha.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • eocommunity.com

Suku Madura

suku Madura
Suku Madura, adalah salah satu suku di provinsi Jawa Timur, yang mendiami pulau Madura dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Populasi suku Madura termasuk yang ke-3 terbesar di Indonesia, diperkirakan lebih dari 6.800.000 orang.

Orang Madura tersebar di pulau Madura dan pulau-pulau kecil sekitarnya, yaitu pulau Gili Raja, Sapudi, Raas dan Kangean. Penyebaran orang Madura tidak hanya di Jawa Timur saja, tapi juga terdapat di provinsi lain bahkan di luar pulau Jawa seperti di Kalimantan bahkan sampai ke Malaysia.

Wilayah pemukiman orang Madura, terdiri dari 4 kabupaten, yaitu:
  1. Bangkalan
  2. Sampang
  3. Pamekasan
  4. Sumenep

Masyarakat Madura juga banyak yang ikut program transmigrasi ke wilayah lain, terutama ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Hanya saja karena karakter orang Madura yang terkenal keras, sehingga membuat mereka agak susah beradaptasi dengan masyarakat di lingkungan barunya. Di beberapa tempat di Kalimantan, seperti di Sambas dan Sampit, pernah terjadi konflik antara masyarakat Madura dengan penduduk asli Kalimantan. Kejadian ini  menjadi kenangan pahit bagi orang Madura, karena akibat konflik tersebut, puluhan ribu orang Madura yang tidak terlibat dalam kasus etnik tersebut terkena imbasnya dan kembali pulang ke kampung halamannya di pulau Madura atau ke tempat-tempat lain yang lebih aman, walaupun mereka masih berharap untuk bisa kembali ke Kalimantan meski warga Kalimantan khususnya Dayak bertegas untuk tidak menerima mereka kembali.

Asal-usul suku Madura, tidak diketahui secara pasti, hanya ada beberapa cerita rakyat yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Menurut sebuah pendapat, bahwa orang Madura dahulunya adalah penduduk asli pulau Jawa yang menghindar dari tekanan para imigran baru yang semakin memenuhi pulau Jawa. Dari cerita lain mengatakan bahwa orang Madura adalah keturunan orang Jawa yang sengaja memisahkan diri dan tidak mau tunduk terhadap kekuasaan raja dan sultan di pulau Jawa.
Apabila dilihat dari struktur fisik orang Madura, pada umumnya orang Madura berkulit coklat matang dan gelap, rambut bergelombang, ikal dan ukuran tubuh sedang, sepertinya mereka memiliki ras mirip ke india-indiaan dari ras tamil, atau mungkin mendekati ras weddoid. Clurit, alat pertanian dan senjata dan logat bahasa orang Madura juga mirip dengan orang India terutama Tamil. Kemungkinan mereka adalah bangsa-bangsa yang bermigrasi dari daratan India ke tanah Jawa, dengan membawa kebudayaan Hindu, sebelum masa Kerajaan Majapahit hadir di tanah Jawa.

Orang Madura pada dasarnya memiliki jiwa perantau. Jiwa perantau ini diakibatkan karena tanah Madura sendiri tidak subur untuk dijadikan lahan pertanian, sehingga memaksa mereka untuk merantau ke daerah-daerah lain untuk penghidupan yang lebih baik.
Karakter orang Madura, terkenal dengan gaya bicara yang blak-blakan dan logat yang kental, memiliki sifat temperamental dan mudah tersinggung. Mereka sangat hemat dan rajin bekerja. Mereka selalu menyisihkan sedikit penghasilan mereka untuk persiapan naik haji.

Masyarakat Madura secara mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Mereka adalah muslim yang taat dan fanatik. Agama Islam berkembang di Madura yang dibawa dari pulau Jawa. Tapi walaupun mereka telah mengenal agama Islam sejak lama, beberapa tradisi ritual lama masih tetap dijalankan seperti tradisi ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse.

Orang Madura berbicara dalam bahasa Madura, yang digunakan sebagai bahasa utama orang Madura. Walaupun kediaman orang Madura berada di wilayah Jawa, tapi banyak orang Madura yang tidak bisa berbahasa Jawa, tapi pada umumnya mereka bisa berbahasa Indonesia, tapi dengan dialek Madura yang kental. Bahasa Madura mempunyai penutur yang terpusat di pulau Madura, Ujung Timur pulau Jawa atau di kawasan yang disebut kawasan Tapal Kuda terbentang dari Pasuruan, Surabaya, Malang, sampai Banyuwangi, kepulauan Kangean, kepulauan Masalembo hingga di beberapa daerah di pulau Kalimantan.

gadis Madura
Bahasa Madura banyak dipengaruhi bahasa Jawa, Melayu, Bugis dan Tionghoa. Pengaruh bahasa Jawa terlihat dalam bentuk sistem hierarki berbahasa sebagai akibat pendudukan Mataram atas pulau Madura. Banyak juga kata-kata dalam bahasa ini yang berakar dari bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Sumatra, tapi dengan lafal yang berbeda.
Bahasa Madura memiliki sistem pelafalan yang unik. Begitu uniknya sehingga orang lain yang ingin mempelajari bahasa Madura akan mengalami kesulitan, khususnya dari segi pelafalan tadi.

Bahasa Madura memiliki beberapa dialek, yaitu:
  • dialek Bangkalan
  • dialek Sampang
  • dialek Pamekasan
  • dialek Sumenep
  • dialek Kangean

Dialek yang dijadikan acuan standar Bahasa Madura adalah dialek Sumenep, karena Sumenep di masa lalu merupakan pusat kerajaan dan kebudayaan Madura. Sedangkan dialek-dialek lainnya merupakan dialek rural yang lambat laun bercampur seiring dengan mobilisasi yang terjadi di kalangan masyarakat Madura. Untuk di pulau Jawa, dialek-dialek ini seringkali bercampur dengan Bahasa Jawa sehingga kerap mereka lebih suka dipanggil sebagai Pendalungan daripada sebagai Madura. Masyarakat di Pulau Jawa, terkecuali daerah Situbondo, Bondowoso, dan bagian timur Probolinggo umumnya menguasai Bahasa Jawa selain Madura.

karapan Sapi
Madura di masa lalu, sekitar tahun 900-1500, pernah berada di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Hindu Jawa timur seperti Kediri, Singasari dan Majapahit. Pada tahun 1624, Madura ditaklukkan oleh Mataram. Sesudah itu, pada abad ke-18, Madura berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda (mulai 1882), mula-mula oleh VOC, kemudian oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pada saat pembagian provinsi pada tahun 1920-an, Madura menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur.

Orang Madura adalah pekerja keras, mereka memiliki profesi yang beragam, selain bertani pada tanaman jagung, ubi beberap jenis sayuran. Tanaman lain adalah cengkeh dan tembakau, yang menjadikan wilayah Madura sebagai produsen penting bagi industri rokok domestik. Selain itu Madura juga tekenal sebagai daerah penghasil garam. Profesi lain adalah beternak sapi, kambing dan domba. Sebagian kecil menjadi nelayan dengan menggunakan perahu cadik dengan jaring yang besar sedangkan para perempuan kebanyakan menjadi pedagang atau sebagai buruh.

sumber:
  • suaramadura.wordpress.com
  • apeopleloved.com
  • indonesiamatters.com
  • wikipedia
sumber lain dan foto:
  • eksotis-island.blogspot.com
  • madura (eastjava.com).jpg
  • ardhastres.blogspot.com

Suku Kangean

pulau Kangean
Suku Kangean, adalah kelompok penduduk asli yang mendiami pulau Kangean yang masuk dalam wilayah provinsi Jawa Timur. Populasi suku Kangean adalah sebesar 134.000 orang.

Masyarakat Kangean secara mayoritas adalah penganut agama Islam. Hampir seluruh orang Kangean memeluk agama Islam, sedangkan yang memeluk agama lain hanya sebagian kecil saja. Agama Islam berkembang dengan baik dalam kalangan orang Kangean. Islam dibawa ke daerah ini dari Jawa dan oleh para pendatang dari tanah Sulawesi, beberapa abad yang lalu. Kehidupan dengan tradisi animisme di beberapa tempat masih ditemui di wilayah ini, seperti percaya pada berbagai hal gaib, sihir dan praktek perdukunan.

perempuan Kangean
Asal-usul orang Kangean sendiri menurut beberapa cerita, dikatakan bahwa orang Kangean sebenarnya adalah hasil gabungan dari beberapa suku-bangsa yang bermigrasi ke wilayah ini. Dahulu pertama sekali yang bermukim di wilayah pulau Kangean ini adalah orang Bajo yang mendirikan pemukiman, mereka terkenal karena keahlian mereka di laut, bahkan mereka pada masa dahulu terkenal dengan tradisi bajak laut mereka yang cukup ditakuti di wilayah perairan laut Jawa. Mereka sering menyerang kapal-kapal dari kapal Madura maupun kapal dari pulau Jawa.
Setelah mereka hidup dan berkembang di wilayah ini sekian lama, semakin banyak penduduk lain yang berdatangan ke wilayah ini seperti orang-orang dari Madura, Jawa, Sulawesi, Sumatra bahkan dari Kalimantan. Semua suku-suku pendatang ini saling berbaur dan melakukan perkawinan campur sehingga terbentuklah masyarakat yang sekarang ini, yaitu masyarakat Kangean atau suku Kangean.
tari Pangkak
tari tradisional suku Kangean

Ditinjau dari bahasa Kangean, bahasa yang digunakan oleh orang Kangen, masih berkerabat dengan bahasa Madura, karena selain letak wilayah Kangean yang berdekatan dengan wilayah pemukiman suku Madura, wilayah Kangean juga termasuk berada di wilayah salah satu kabupaten Sumenep, yang termasuk salah satu wilayah Madura. Selain itu bahasa Kangean juga banyak menyerap perbendaharaan bahasa Bajo, bahasa Melayu Sumatra, bahasa Jawa dan bahasa Melayu Banjar Kalimantan.

Menurut orang Madura, bahwa orang Kangean termasuk salah satu sub-suku Madura, karena dilihat dari segi bahasa Kangean yang dianggap sebagai sub-dialek bahasa Madura. Sedankan menurut orang Jawa, bahwa orang Kangean adalah bagian dari suku Jawa, karena letak pulau Kangean masih berada di wilayah perairan pulau Jawa. Tapi apa kata orang Kangean? Menurut orang Kangean sendiri, mereka adalah suatu suku bangsa tersendiri, walau berada dekat dengan pulau Madura mereka bukanlah bagian dari sub-suku Madura, dan bukan juga bagian dari Jawa. Penuturan mereka, bahwa leluhur mereka berasal dari Sulawesi dan Filipina. Pada dasarnya orang Kangean lebih suka dan lebih bangga kalau disebut sebagai "suku Kangean".

rumah orang Kangean
Mata pencaharian orang Kangean sebagian besar sebagai nelayan. Mereka juga banyak yang berprofesi sebagai petani. Padi termasuk menjadi tanaman utama dan bebebera jenis sayur-sayuran. Profesi lain adalah sebagai pedagang dan sebagai tukang ojek sepeda dan sepeda motor. Sedangkan para nelayan menggunakan kereta kecil untuk mengangkut hasil tangkapan mereka ke pasar lokal.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • suaramadura.wordpress.com
  • prayforindonesia.com
  • kaskus-forum.blogspot.com
  • galikano.multiply.com

Suku Baduy

suku Baduy
Suku Baduy, adalah suatu komunitas masyarakat yang bermukim di daerah lembah dan bukit di pegunungan Kendeng di desa Kanekes kecamatan Leuwidamar kabupaten Lebak-Rangkasbitung provinsi Banten.

Suku Baduy adalah salah satu sub-suku dari suku Sunda. Suku Baduy berbicara dalam bahasa Baduy. Bahasa Baduy termasuk cabang bahasa Sunda, dengan dialek Baduy.

Suku Baduy ini hidup mengasingkan dan menutup dari pengaruh dunia luar, dan tetap menjaga tradisi kehidupan mereka dengan cara-cara yang tradisional.
Masyarakat suku Baduy sendiri lebih suka menyebut dirinya sebagai Urang Kanekes. Istilah "kanekes" ini mereka sesuaikan dengan wilayah tempat tinggal mereka, yaitu desa Kanekes.

Komunitas suku Baduy terdiri dari 3 kelompok yang menempati 3 wilayah yang berbeda, yaitu:
  • Baduy Tangtu (Baduy Dalam), yaitu kelompok Baduy yang paling ketat mengikuti adat mereka. Terdapat tiga kampung pada kelompok Baduy dalam yaitu: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Ciri khas orang Baduy Dalam adalah mereka mengenakan pakaian yang berwarna putih alami dan biru tua serta mengenakan ikat kepala putih. 
  • Baduy Panamping (Baduy Luar), yang berciri mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh dan Cisagu.
  • Baduy Dangka, tinggal di luar wilayah Kanekes tidak seperti Baduy Dalam dan Baduy Luar. Saat ini perkampungan suku Baduy Dangka, hanya 2 kampung yang tersisa yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Baduy Dangka ini sudah mulai berbaur dengan masyarakat lain.

pemukiman suku Baduy
Rumah pemukiman suku Baduy sangat sederhana, rumah dibangun dari bahan-bahan yang tersedia dari alam. Rumah dibuat dari bambu, tapi walaupun terasing mereka sudah menggunakan paku untuk membangun rumah. Setiap perkampungan memiliki lumbung penyimpanan hasil panen. 

lumbung padi
Lumbung Padi, atau tempat penyimpanan hasil panen suku Baduy ini memiliki bentuk yang unik karena memiliki bentuk rumah dengan ciri khas tersendiri.

Suku Baduy menganut agama kepercayaan tradisional yang mereka jalani sejak zaman nenek moyang mereka. Kepercayaan yang berdasarkan pada pemujaan nenek moyang (animisme), namun agama kepercayaan suku Baduy ini berkembang dengan menyerap budaya agama luar seperti dari Hindu, Budha dan Islam. Inti dari agama kepercayaan suku Baduy ini ditunjukkan dengan ketentuan adat yang mutlak dengan adanya “pikukuh” (kepatuhan)..

Suku Baduy, pada umumnya hidup bermatapencarian pada bidang pertanian, mereka menanam padi di ladang. Mereka juga memanfaatkan hasil hutan dengan mengumpulkan buah-buahan yang mereka kumpulkan dari dalam hutan, dan menjualnya ke pasar. Ketika pekerjaan mereka di ladang tidak mencukupi kebutuhan hidup mereka, mereka akan berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan berjalan kaki, umumnya mereka berangkat dengan jumlah yang kecil antara 3 sampai 5 orang untuk mejual madu dan kerajinan tangan mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • pemiluindonesia.com
  • hendryferdinan.wordpress.com
  • dimasfajrin.blogspot.com

Deutro Malayan di Jawa


Pulau Jawa, pada umumnya seluruhnya dihuni oleh suku-bangsa Deutro Malayan, mulai dari daerah ujung sebelah barat sampai ke wilayah ujung sebelah timur pulau Jawa.

Ratusan-ribu tahun yang lalu, ketika pulau-pulau di indonesia masih saling menyatu, sebelum kehadiran suku bangsa Deutro Malayan di pulau Jawa, telah hadir suatu populasi yang memiliki ras melanesoid yang mengisi pedalaman pulau Jawa. Beberapa fosil pernah ditemukan di pulau Jawa, tapi diperkirakan karena terjadi bencana alam yang dahsyat atau kemungkinan karena wabah penyakit, maka populasi Melanesoid ini diyakini punah atau bermigrasi ke daerah lain, kemungkinan ke wilayah yang lebih jauh seperti Papua. Sedangkan kelompok Proto Malayan juga pernah bermukim di pulau Jawa ini, tapi karena masuknya suku-bangsa Deutro Malayan dengan jumlah besar, maka suku-bangsa Proto Malayan terdesak ke daerah lain, ke pulau Kalimantan dan ke wilayah Nusa Tenggara Barat, dan yang bertahan berbaur dengan suku-bangsa Deutro Malayan, sehingga tidak bisa diidentifikasikan lagi keberadaannya.

Kehadiran suku-bangsa Deutro Malayan di pulau Jawa mengalami sejarah yang panjang, sejak gelombang migrasi suku-bangsa deutro malayan sekitar abad 2, yang menyebar ke seluruh kawasan kepulauan Indonesia, termasuk di pulau jawa, yang masuk melalui pantai sebelah barat pulau jawa. Beberapa tradisi kerajaan banyak berkembang di pulau Jawa ini. Pada awalnya mereka adalah penganut agama Hindu-Budha, tapi saat ini agama Islam menjadi agama mayoritas bagi masyarakat pulau Jawa, sedangkan sebagai agama minoritas adalah agama Kristen, dan sisanya tetap mempertahankan agama Hindu dan Budha.

Berikut daftar suku bangsa Deutro Malayan di pulau Jawa:

Banten

DKI Jakarta

Jawa Barat

D.I. Jogjakarta

Jawa Tengah

Jawa Timur


sumber foto:
  • dharmabeck88lovers.cc.cc

Suku Tengger

suku Tengger
Suku Tengger, adalah suatu kelompok masyarakat yang berdiam di sekitar gunung Bromo di provinsi Jawa Timur, yang bermukim di wilayah kabupaten Pasuruan, kabupaten Lumajang, kabupaten Probolinggo dan Malang di Jawa Timur. Populasi suku Tengger ini telah diperkirakan sebesar 181.000 orang

Orang Tengger pada dasarnya sejak dahulu adalah penganut agama Hindu-Budha, tetapi dari mereka saat ini banyak yang sudah beralih ke agama Islam dan Kristen. Menurut keyakinan masyarakat suku Tengger, bahwa mereka adalah keturunan dari orang-orang Kerajaan Majapahit (sebuah kerajaan di pulau jawa pada masa lalu).

Istilah "tengger", berasal dari sebuah legenda di jawa, yaitu dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger, yang diyakini adalah usul nama "tenggger", adalah "teng" dari 4 huruf terakhir nama Roro An"teng", dan "ger" dari nama 3 huruf terakhir nama Joko Se"ger".

perempuan Tengger
Suku Tengger percaya bahwa gurung Bromo (Brahma) adalah sebagai gunung suci. Mereka mengadakan tradisi adat setiap setahun sekali di gunung ini, yaitu Upacara Yadnya Kasada (Kasodo). Upacara ini dilaksanakan di sebuah pura yang berada di kaki gunung Bromo, yaitu Pura Luhur Poten Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (ke-10) menurut penanggalan Jawa.

Dalam masyarakat suku Tengger, mereka juga memiliki kesenian budaya seperti Tari Sodor dan Tari Ujung dan peralatan musik seperti gamelan, musik ketepung dan trompet.

Masyarakat suku Tengger kebanyakan hidup sebagai petani Mereka bercocok tanam di ladang-ladang dengan pengairan tadah hujan. Mereka menanam kentang, kubis, bawang dan wortel sebagai tanaman utama untuk dijual ke pasar. Mereka juga menanam jagung jagung sebagai cadangan makanan pokok. Bidang profesi lain selain petani adalah sebagai pedagang, perajin pada industri kecil, dan juga ada yang telah menjadi karyawan pemerintahan maupun swasta termasuk menjadi anggota ABRI dan lain-lain.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • kaskus
  • sosbud.kompasiana.com

Suku Samin

masyarakat suku Samin
Suku Samin, adalah suatu kelompok masyarakat yang terdapat di daerah Blora provinsi Jawa Tengah dan Bojonegoro provinsi Jawa Timur.

Pemukiman suku Samin ini berada di tengah hutan, mereka sengaja menjauhkan diri dari kehidupan keramaian dan menjalankan tradisi hidup mereka yang berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Mereka memperlakukan alam dengan baik. Mengambil kayu bakar hanya seperlunya dan tidak mengeksploitasi secara berlebihan. Mereka lebih suka berjalan kaki, sejauh apapun yang mereka tempuh. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia.
Semua ini mereka jalani karena sesepuh mereka, Samin Surosinteko merupakan penentang keras materialisme dan kapitalisme yang dibawa oleh kolonial Belanda.

Orang Samin berbicara menggunakan bahasa Kawi yang dikombinasikan dengan dialek setempat, yaitu bahasa Kawi desa kasar. Suku Samin mengalami perkembangan dalam hal kepercayaan dan tata cara hidup. Kawasan daerah Pati dan Brebes, terdapat pecahan suku Samin yang disebut Samin Jaba dan Samin Anyar, yang telah meninggalkan tatacara hidup suku Samin dahulu. Selain itu, di Klapa Duwur (Blora) Purwosari (Cepu), dan Mentora (Tuban) dikenal Wong Sikep, mereka ini dulunya fanatik, tapi kini meninggalkan tata cara hidup dan keyakinan suku Samin yang dahulu, dan memilih agama resmi, yakni agama Budha-Dharma.

Ajaran dan kepercayaan Saminisme, muncul sebagai akibat atau reaksi dari pemerintah kolonial Belanda yang sewenang-wenang. Perlawanan dilakukan tidak secara fisik tetapi berwujud penentangan terhadap segala peraturan dan kewajiban yang harus dilakukan rakyat terhadap Belanda misalnya dengan tidak membayar pajak. Terbawa oleh sikapnya yang menentang tersebut mereka membuat tatanan, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan tersendiri yang akhirnya terbentuk suatu komunitas tersendiri serta kepercayaan dan tata cara hidup tersendiri, dan komunitas mereka ini disebut suku Samin.

Tokoh perintis ajaran Samin Raden Surowijoyo. Pengetahuan intelektual Kyai Samin ini didapat dari ayah, yaitu anak dari pangeran Kusumaniayu (Bupati Sumoroto). Laki-laki kelahiran tahun 1859, Raden Surowijoyo melakukan perampokan pada keluarga kaya dan hasilnya dibagi-bagi kepada fakir miskin (mirip kisah Robinhood, atau Robinhood ala Jawa). Gerakan agresif revolusioner Kyai Samin Surosantiko, dicekal oleh Belanda dan dibuang ke Tanah Lunto pada tahun 1914. Kyai Samin Surosantiko merupakan generasi Samin Anom yang melanjutkan gerakan dari sang Ayah yang disebut sebagai Samin Sepuh..

sesepuh suku Samin
Samin yang ditulis dalam bahasa jawa baru yaitu dalam bentuk puisi tradisional (tembang macapat) dan prosa (gancaran). Secara historis ajaran Samin ini berlatar dari lembah Bengawan Solo (Boyolali dan Surakarta). Ajaran Samin berhubungan dengan ajaran agama Syiwa-Budha, sebagai sinkretisme antara Hindhu-Budha. Namun pada perjalannnya ajaran ini juga dipengaruhi oleh ajaran ke-Islaman yang berasal dari ajaran Syeh Siti Jenar yang dibawa oleh muridnya yaitu Ki Ageng Pengging. Sehingga patut dicatat bahwa orang Samin merupakan bagian masyarakat yang berbudaya dan religius. Daerah persebaran ajaran Samin menurut Sastroatmodjo (2003) diantaranya di Tapelan (Bojonegara), Nginggil dan Klopoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunngsegara (Brebes), Kandangan (Pati) dan Tlaga Anyar (Lamongan). Ajaran di beberapa daerah ini merupakan sebuah gerakan meditasi dan mengerahkan kekuatan batiniah guna menguasai hawa nafsu. Sebab perlawanan orang Samin sebenarnya merefleksikan kejengkelan penguasa pribumis etempat dalam menjalankan pemerintahan di Randublatung.

Lima aturan dalam ajaran Samin:
  • tidak bersekolah
  • tidak memakai peci, tapi memakai "iket", yaitu semacam kain yang diikat di kepala
  • tidak berpoligami
  • tidak memakai celana panjang, dan hanya pakai celana selutut
  • tidak berdagang

Pokok-pokok ajaran Saminisme
  • Agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya.
  • Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka irihati dan jangan suka mengambil milik orang lain.
  • Bersikap sabar dan jangan sombong.
  • Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama denganroh dan hanya satu dibawa abadi selamanya.Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, namun hanya menanggalkan pakaiannya.
  • Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur dan saling menghormati. Berdagang bagi orang Samin dilarang karena tertulis dalam Kitab Suci Orang Samin.

Daerah penyebaran dan para pengikut ajaran Samin pertama kali tersebar di daerah Klopoduwur, Blora provinsi Jawa Tengah. Pada 1890 pergerakan Samin berkembang ke dua desa hutan kawasan Randublatung kabupaten Bojonegoro provinsi JawaTimur.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • primbondonit.blogspot.com
  • suhadirembang.blogspot.com

Suku Osing

suku Osing
Suku Osing, adalah salah satu suku yang bermukim di kabupaten Banyuwangi provinsi Jawa Timur.

Pemukiman suku Osing tersebar di kecamatan Rogojampi, Kalipuro, Glagah, Songgon, Kabat, Giri dan di kota Banyuwangi serta tersebar juga di beberapa kecamatan lain di Jawa Timur.

Suku Osing merupakan sub-suku dari suku Jawa. Suku Osing ini berbicara menggunakan bahasa Osing. Bahasa Osing merupakan salah satu bahasa tertua di pulau Jawa. Bahasa Osing saat ini banyak mendapat pengaruh dari bahasa Bali, dikarenakan wilayah pemukiman suku Osing ini berseberangan dengan pulau Bali, selain itu di wilayah pemukiman suku Osing juga banyak bermukim masyarakat suku Bali yang sudah berbaur dengan masyarakat suku Osing.

suku Osing
Masyarakat suku Osing ini memiliki beberapa kesenian yang sudah populer di wilayah Banyuwangi dan Jawa Timur, yaitu Kuntulan, Gandrung, Jaranan, Barong, Janger dan Seblang. Budaya dan kesenian suku Osing sepertinya banyak mengalami asimilasi dengan budaya dan kesenian Bali. Terlihat dari beberapa kesenian yang diperagakan oleh orang Osing, banyak mengandung unsur Bali.


sumber:
  • ragambudayanusantara.blogspot.com
  • yudhim.blogspot.com
  • wikipedia
sumber lain dan foto:
  • tara.student.umm.ac.id
  • blognusantaraextrem.blogspot.com