Showing posts with label Sulawesi Utara. Show all posts
Showing posts with label Sulawesi Utara. Show all posts

Suku Toulimambot

Suku Toulimambot, adalah suatu walak atau anak suku kecil atau juga setingkat dengan klan yang berada di antara pakasaan dan marga (fam) di Minahasa.

Seperti yang tertulis dalam cerita-cerita Minahasa, dikatakan bahwa awalnya bahwa penduduk Toulimambot beserta Touliang berasal dari satu suku-induk Tountewoh, namun ada versi lain yang mengatakan kedua walak ini berasal dari Tountumaratas. Tapi walau begitu yang pasti kedua walak ini berasal dari satu suku-induk.

Asal usul perjalanan masa lalu pada walak Toulimambot memiliki perjalanan yang sama dengan walak Touliang.

Korengkeng
pahlawan walak Toulimambot

(thearoengbinangproject)
Mereka pergi mendiami pulau kecil-berawa, terletak antara dua buah mulut sungai yang kemudian bergabung dan mengalir menjadi satu. Dengan demikian terlahir nama sebutan "di tengah sekali, dikelilingi air". Tempat ini suka disebut juga Minawanua artinya "bekas perkampungan"; dan setelah perang ketiga (terakhir) antara suku Tondano vs. Belanda, tempat ini suka disebut juga Moraya (kata peninggalan orang Spanyol "muralla" = benteng pertahanan).

Temberan artinya sungai besar. Mereka pergi mendiami sisi mulut sungai sebelah Timur dari Pulau yang didiami rombongan "Kauner."

Toulimambot artinya orang-orang yang mendiami bagian lurus/ memanjang. Mereka membangun perkampungan pada perpanjangan/ lurus sebelah Utara danau; kata dasar "Lambot" = panjang. Sekarang mereka bernama Toulimambot.

Masyarakat Toulimambot banyak bermukim di wilayah sekitar danau Tondano. Di Sekitar Tondano kehidupan masyarakat Toulimambot hidup berbaur dengan walak Touliang dan Kakas Remboken, yang lebih dikenal sebagai kesatuan masyarakat Tondano.

Mayoritas masyarakat Toulimambot adalah penganut agama Kristen. Sedangkan kehidupan sehari-hari adalah bertani dan sebagai nelayan. Selain itu masyarakat Toulimambot telah banyak juga yang berwiraswasta atau bekerja di perusahaan swasta dan di sektor pemerintahan.

sumber:

Suku Touliang

Suku Touliang, adalah suatu walak atau anak suku kecil atau juga setingkat dengan klan yang berada di antara pakasaan dan marga (fam) di Minahasa.

Seperti yang tertulis dalam cerita-cerita Minahasa, dikatakan bahwa awalnya bahwa penduduk Touliang beserta Toulimambot berasal dari satu suku-induk Tountewoh, namun ada versi lain yang mengatakan berasal dari suku-induk Tountumaratas. Tapi walau begitu yang pasti kedua walak ini berasal dari satu suku-induk.

Sarapung
pahlawan walak Touliang

(thearoengbinangproject)
Mereka pergi mendiami pulau kecil-berawa, terletak antara dua buah mulut sungai yang kemudian bergabung dan mengalir menjadi satu. Dengan demikian terlahir nama sebutan "di tengah sekali, dikelilingi air". Tempat ini suka disebut juga Minawanua artinya "bekas perkampungan"; dan setelah perang ketiga (terakhir) antara suku Tondano vs. Belanda, tempat ini suka disebut juga Moraya (kata peninggalan orang Spanyol "muralla" = benteng pertahanan).

Temberan artinya sungai besar. Mereka pergi mendiami sisi mulut sungai sebelah Timur dari Pulau yang didiami rombongan "Kauner."

Toulian artinya orang-orang yang mendiami bagian lengkung. Nama ini terlahir karena tempat kediaman mereka terletak pada bagian lengkung danau di sebelah Barat-Laut. Kemudian lama kelamaan nama Toulian sendiri berubah menjadi Touliang, sesuai dengan kebiasaan dialek orang Minahasa, yang sering mengucapkan "n" menjadi "ng"..

suasana di Touliang
Masyarakat Touliang saat ini terkonsentrasi di pemukiman desa Touliang kecamatan Eris kabupaten Minahasa. Mayoritas masyarakat Touliang adalah beragama Kristen.

Kehidupan sehari-hari masyarakat Touliang adalah bertani dan memelihara beberapa hewan ternak. Selain itu tidak sedikit yang berprofesi di bidang swasta maupun pemerintahan. Tidak sedikit juga yang bekerja di luar kampung, seperti ke kota Manado maupun ke pulau Jawa dan lain-lain.

referensi:

Suku Jawa Tondano

Suku Jawa Tondano, atau disebut juga sebagai Jaton, merupakan suatu kelompok masyarakat baru yang berada di kecamatan Tondano Utara kabupaten Minahasa provinsi Sulawesi Utara di Indonesia.

suku Jawa Tondano
Wilayah pemukiman masyarakat suku Jawa Tondano berada di sebelah utara danau Tondano dan berjarak sekitar 65 km arah selatan kota Manado. Suku Jawa Tondano memiliki perkampungan yang bernama kampung Jawa Tondano.

Pada awal kehadiran masyarakat Jawa di kampung Tondano ini adalah sekelompok masyarakat Jawa yang ditangkap dan diasingkan sebagai tahanan politik oleh tentara kolonial Belanda pada tahun 1828 beserta Panglima Perang mereka ketika berlangsungnya Perang Jawa (1825-1830), dan pada tahun 1829 menyusul Kyai Modjo beserta 63 orang pengikutnya, mereka semua ditangkap dan diasingkan sebagai tahanan politik ke Minahasa Sulawesi Utara. Kyai Modjo meninggal di sana pada tahun 1848 dalam usia 84 tahun. Pengikut Kyai Modjo yang semuanya laki-laki tinggal menetap di Minahasa dan melakukan kawin mawin dengan para perempuan asli Tondano dan keturunan mereka mendiami kampung yang saat ini dikenal dengan Kampung Jawa Tondano. Selain itu juga datang ke wilayah ini tahanan politik lain yang berasal dari Sumatra, Kalimantan dan Maluku. Termasuk Pangeran Perbatasari dari Kerajaan Banjar yang ditangkap Belanda saat berada di Kutai untuk meminta bantuan perang pada tahun 1885.

Penduduk Kampung Jawa Tondano sendiri, sebenarnya bukanlah seluruhnya masyarakat dari pulau Jawa, tapi berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti dari Sumatra (Palembang, Sumatra Utara dan Aceh), Kalimantan (suku Banjar), Maluku dan suku Arab Indonesia. Masyarakat suku Jawa Tondano adalah hasil dari percampuran etnis dengan saling kawin campur dan saling mempengaruhi dalam budaya dan kesenian di kampung Jawa Tondano. Karena mayoritas dari mereka awalnya adalah masyarakat dari pulau Jawa, oleh karena itu lah kampung mereka pun lebih dikenal dengan nama kampung Jawa Tondano. 

gadis-gadis Jawa Tondano
Masyarakat kampung Jawa Tondano, mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Agama Islam adalah agama yang mereka bawa dari daerah asalnya. Walaupun saat ini terdapat sebagian kecil yang telah memeluk agama Kristen. Tapi agama Islam tetap menjadi agama yang kuat di kalangan masyarakat suku Jawa Tondano. Perbedaan agama di antara mereka tidak menjadi masalah buat mereka, dan mereka hidup rukun dan saling menghargai.

Sedangkan bahasa yang mereka pakai yang pada awalnya didominasi oleh bahasa Jawa, tapi secara perlahan-lahan bahasa mereka pun agak terkikis oleh bahasa Manado (Melayu Manado). Saat ini para generasi muda masyarakat kampung Jawa Tondano lebih suka berbicara dalam bahasa Manado.

penduduk kampung Jawa Tondano
Seiring perkembangan zaman, masyarakat suku Jawa Tondano pun menyebar ke luar daerah Tondano, dan mendirikan perkampungan di daerah lain. Saat ini paling banyak justru berada di wilayah Gorontalo. Dilihat dari penyebarannya sepertinya mereka lebih memilih ke wilayah Gorontalo.
Penyebaran masyarakat suku Jawa Tondano, tersebar ke beberapa wilayah lain, yaitu:
  • kampung Rejonegoro, berada di kabupaten Gorontalo provinsi Gorontalo
  • kampung Reksonegoro, berada di kecamatan Tibawa kabupaten Gorontalo provinsi Gorontalo
  • kampung Mulyonegoro, berada di kecamatan Pulubala kabupaten Gorontalo provinsi Gorontalo
  • kampung Yosonegoro, berada di kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo
  • kampung Rejonegoro, berada di kabupaten Gorontalo provinsi Gorontalo
  • kampung Salilama, berada di kecamatan Mananggu kabupaten Boalemo provinsi Gorontalo
  • kampung Kaliyoso, berada di kecamatan Bongomeme kabupaten Gorontalo provinsi Gorontalo
  • kampung Bandungredjo, berada di kecamatan Boliyohuto kabupaten Gorontalo provinsi Gorontalo
  • kampung Ikhwan, berada di kecamatan Dumoga Barat kabupaten Bolaang Mongondow provinsi Sulawesi Utara
  • kampung Bojonegoro, berada di kecamatan Maesaan kabupaten Minahasa Selatan provinsi Sulawesi Utara

referensi:

Suku Remboken

Remboken: danau Tondano
Suku Remboken (Rinembok), adalah salah satu walak atau suku kecil dari suku Tondano yang merupakan anak suku Minahasa yang terdapat di kecamatan Remboken kabupaten Minahasa provinsi Sulawesi Utara.

Masyarakat Remboken terutama berdiam di kecamatan Remboken kabupaten Minahasa, dan sebagai salah satu bagian dari Pakasa'an Tondano, yang terdiri dari 4 walak, yaitu:
  • Kakas
  • Remboken
  • Touliang
  • Toulimambot

Masyarakat Remboken, diperkirakan terbentuk sekitar abad 16. Suku Remboken, lebih dikenal sebagai orang Tondano, tapi Tondano sendiri membagi wilayah adat mereka menjadi 4 walak, dan salah satunya adalah masyarakat Remboken. Oleh karena itu mereka juga disebut sebagai orang Remboken. Masyarakat Remboken dengan ke-3 walak lain, seperti Kakas, Touliang dan Toulimambot, adalah berkerabat dan bisa dikatakan hampir tidak ada perbedaan di antara mereka. Masing-masing walak memiliki wilayah adat masing-masing, sehingga mereka disebut sesuai dengan nama walak mereka masing-masing.

Orang Remboken berbicara dalam bahasa Tondano dengan dialek khas Remboken. Pada dasarnya orang Remboken dan orang Tondano adalah satu. Sehingga antara orang Remboken dengan orang Kakas, Touliang dan Toulimambot dapat berkomunikasi dengan baik.

Orang Remboken adalah pemeluk agama Kristen, sebagian besar memeluk agama Kristen Protestan, sebagian kecil memeluk agama Kristen Katolik dan denominasi gereja lainnya, seperti Advent, Pentakosta, Kharismatik dan lain-lain.

Masyarakat Remboken, pada umumnya hidup pada bidang pertanian, terutama berladang dan berkebun. Saat ini banyak masyarakat Remboken yang telah memiliki profesi lain, seperti menjadi pegawai negeri maupun bergerak pada bidang swasta.

sumber foto:

Suku Kakas

Suku Kakas, adalah suatu walak, klan, suku kecil atau anak suku Tondano, sebagai salah satu sub-suku Minahasa di provinsi Sulawesi Utara.

Suku Kakas mendiami daerah selatan danau Tondano, Kakas di kabupaten Minahasa, yang termasuk bagian dari Pakasa'an Tondano, yang terdiri dari 4 walak, yaitu:
  • Kakas
  • Remboken
  • Touliang
  • Toulimambot

Suku Kakas, hadir di wilayah Kakas ini diperkirakan sekitar abad 16. Pada awalnya mereka datang mencari daerah baru untuk menggarap tanah ladang dan sawah. Orang Kakas pada masa itu hidup sebagai petani, dengan menerapkan praktek pertanian perladangan berpindah. Tapi setelah sekian lama mereka di tempat ini, rupanya tempat ini dirasa cocok untuk didiami, sehingga mereka mendirikan suatu perkampungan, yang lama kelamaan menjadi pemukiman bagi suku Kakas di daerah ini.

suku Kakas
Kebaktian di Gereja
Orang Kakas berbicara dalam bahasa Tondano dengan dialek Kakas. Orang Kakas berasal dari keturunan orang Tondano, tapi terdapat sedikit perbedaan dalam dialek, tapi tidak terlalu berarti, karena antara orang Kakas dan orang Tondano, tetap bisa berkomunikasi dengan baik dan saling memahami maksud lawan bicaranya.

Orang Kakas pada umumnya memeluk agama Kristen, atau secara mayoritas adalah beragama Kristen. Orang Kakas mengenal agama Kristen sekitar tahun 1830 dari seorang penginjil dari Schwarts yang berkhotbah di daerah Kakas. Agama Kristen berkembang pesat dan menjadi keyakinan yang kuat di kalangan masyarakat Kakas ini. Sejak masuknya Belanda di wilayah ini, maka pembangunan gedung gereja dan sekolah serta fasilitas kesehatan banyak didirikan oleh Belanda. Hal ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat suku Kakas.

sumber:

Suku Tounkimbut

Suku Tounkimbut (Tonkimbut, Tongkimbut), adalah salah satu pakasa'an atau anak suku di Minahasa yang berada di provinsi Sulawesi Utara.

Suku Tounkimbut, merupakan anak suku Minahasa di zaman Malesung (Proto Minahasa/ Minahasa Tua), yang berasal dari suku tua Tountumaratas. Suku Tountumaratas pada masa itu menjadi 2 pakasa'an, yaitu:

Tounkimbut sendiri akhirnya terpecah menjadi 2 walak, yaitu:
  • Tounkimbut
    • Kawangkoan Tombasian (Tounkimbut Atas)
    • Sonder (Tounkimbut Bawah)

Tapi karena kedua walak Tounkimbut ini mendiami wilayah Pakasa'an Tountemboan yang merupakan pecahan dari Pakasa'an Toumpakewa. Sehingga kedua walak Tounkimbut tersebut dianggap menjadi bagian dari Pakasa'an Tountemboan.

Menurut cerita lama Minahasa, wilayah pegunungan Tareran merupakan wilayah pembagian Pakasa'an Tounkimbut dan Pakasa'an Tounpaso yang waktu itu telah menetap di sekitar Gunung Soputan bagian utara, yang sekarang menjadi wilayah Pakasa'an Tountemboan.

sumber:

Suku Tou Ure

Suku Tou Ure, adalah salah satu suku tertua dari kelompok Proto Minahasa (Minahasa Tua) di provinsi Sulawesi Utara.

Suku Tou Ure ini sebagai suku tertua yang sudah ada sebelum terjadinya Musyawarah di Watu Pinawetengan. Suku Tou Ure telah ada di bumi Minahasa sezaman dengan 3 suku tua Minahasa lainnya seperti suku Tountumaratas, suku Tountewoh dan suku Tombulu, serta satu lagi dari kelompok keturunan Opo Suawa.
Hanya saja suku Tou Ure beserta kelompok keturunan Opo Suawa, tidak ikut dalam Musyawarah di Watu Pinawetengan pada masa sekitar abad ke-7 di tanah Malesung (Minahasa Purba). Sehingga mereka tidak mendapat pembagian wilayah di tanah Minahasa. Selain itu suku Tou Ure juga terlupakan dalam cerita tua Minahasa. Istilah Tou Ure berasal dari kata "ure" yang berarti "lama", jadi "tou ure" berarti "orang lama", yang kira-kira bermakna sebagai "suku tua".

Suku Tou Ure ini berasal dari keturunan Opo Mamarimbing anak dari Toar dan Lumimuut. Opo Mamariming memiliki anak bernama Matulandi, Tasumondak dan Tarumampen, yang pada awalnya tinggal di daerah kaki gunung Tonderukan di Tumaratas Tua, yang sekarang terletak di antara kampung Kanonang dan Tumaratas. Saat itu wilayah keturunan Opo Mamarimbing ini dibagi menjadi 2 wilayah kelompok besar, yaitu Tumani Mawale di sebelah barat dan Tou Ure di sebelah timur.

Menurut cerita rakyat Minahasa, bahwa suku Tou Ure ini tinggal di dataran tinggi pegunungan Wulur - Mahatus,. Sayangnya keturunan suku Tou Ure ini tidak diketahui lagi keberadaannya. Diperkirakan keturunan-keturunan suku Tou Ure telah berbaur dengan suku-suku Minahasa lainnya.

sumber:

Suku Tountumaratas

Suku Tountumaratas, adalah salah satu suku tua Minahasa yang berada di provinsi Sulawesi Utara.

Suku Tountumaratas merupakan suku tertua di tanah Minahasa yang sudah ada sebelum masa terjadinya musyarawarah di Watu Pinawetengan.
Nama Tountumaratas, berasal dari kata "ta'tas" yang berarti "tebang" atau "putus", jadi "tountumaratas" berarti "orang yang telah memutuskan".

Saat itu di tanah Minahasa hanya ada 3 suku besar, yaitu:
  • Tountumaratas
  • Tountewoh (Tountewu)
  • Toumbulu

Tountumaratas sendiri akhirnya terbagi menjadi 2 Pakasa'an, yaitu:
  • Tountumaratas
    • Tounkimbut
    • Toumpakewa

Pakasa'an Toumpakewa, berubah menjadi 2 pakasa'an, yaitu Pakasa'an Tountemboan dan Pakasa'an Touwuntu.. Sedangkan Pakasa'an Tounkimbut terbagi menjadi 2 walak, yaitu Walak Tounkimbut Atas dan Walak Tounkimbut Bawah. Kedua walak ini berdiam di wilayah  Tetapi kedua Walak Tounkimbut ini mendiami wilayah Tountemboan, sehingga Walak Tounkimbut Atas dan Tounkimbut Bawah ini lama kelamaan menjadi bagian dari Pakasa'an Tountemboan.

Setelah hadirnya pakasa'an-pakasa'an dan walak-walak di daerah Tountumaratas, maka keberadaan suku Tountumaratas pun hilang tergantikan oleh kehadiran keturunannya yang menjadi beberapa suku-suku baru di tanah Minahasa .

sumber:

Suku Toumpakewa

Suku Toumpakewa, adalah sebagai salah satu Pakasa'an atau anak suku Minahasa yang berada di provinsi Sulawesi Utara.

Suku Toumpakewa merupakan suku tua Minahasa, yang telah ada ketika terjadi musyawarah di Watu Pina Wetengan. Suku Toumpakewa berasal dari Pakasa'an Tountumaratas. Pakasa'an Tountumaratas terbagi menjadi 2 Pakasa'an, yaitu Pakasa'an Tounkimbut dan Pakasa'an Toumpakewa.

Dengan bertambahnya penduduk, maka Pakasa'an Tounkimbut menempati daerah pegunungan, sedangkan Pakasa'an Toumpakewa menempati daerah dekat pantai. Pakasa'an Toumpakewa pun terpecah lagi menjadi 2 pakasa'an, yaitu Pakasa'an Tountemboan dan Pakasa'an Touwuntu.

Pakasa'an Toumpakewa, terbagi menjadi 2 Pakasa'an dan banyak Walak, yaitu:

Keberadaan suku Toumpakewa pun hilang secara semu dengan hadirnya keturunan-keturunannya yang berupa pakasa'an-pakasa'an dan walak-walak, menggantikan keberadaan suku Toumpakewa. Tapi pakasa'an-pakasa'an dan walak-walak tersebut tetap mengaku bahwa mereka semua berasal dari suku Toumpakewa atau Pakasa'an Toumpakewa.

sumber:

Suku Tountewoh

Suku Tountewoh, adalah merupakan suku tua di tanah Malesung (Proto Minahasa/ Minahasa Tua) yang berada di provinsi Sulawesi Utara.

Suku Tountewoh adalah termasuk salah satu suku tua di Minahasa, yang mana keberadaan suku Tountewoh ini adalah pada masa zaman Malesung, ketika masa terjadinya musyawarah adat pembagan di Watu Pinawetengan, sekitar abad ke-7. Seiring perjalanan waktu, suku Tountewoh sendiri telah terbagi menjadi beberapa pakasa'an dan walak. Sehingga keberadaan suku Tountewoh sendiri telah tergantikan oleh keturunan-keturunannya.

Suku Tountewoh terbagi menjadi 3 Pakasa'an dan banyak Walak, yaitu:
  • Pakasa'an Tondano (Toudano)
    • Tounour
      • Kakas
      • Remboken
      • Toulour
        • Touliang 
        • Tolimambot
  • Pakasa'an Tonsea
    • Maumbi
    • Kema
    • Likupang

Suku Tountewoh yang telah terbagi menjadi 3 pakasa'an, saling memisahkan diri. Pakasa'an Tondano menetap di sekitar danau Tondano dan Pakasa'an Tonsea meninggalkan danau Tondano dan menetap di kaki gunung Soputan. Sedangkan Pakasa'an Toundanouw berlayar ke pulau lain, dan setelah sekian lama kembali ke tanah Malesung dan menetap di daerah sekitar danau Bulilin. Kemudian terpecah menjadi 2 walak, yaitu Walak Tonsawang dan Walak Tombatu.

Keturunan-keturunan suku Tountewoh sebagai penduduk asli di sekitar danau Tondano, memiliki kebiasaan yang sama yaitu tinggal di daerah yang memiliki danau. Saat ini keberadaan suku Tountewoh sendiri telah tergantikan oleh kehadiran keturunan-keturunannya.

sumber;

Suku Touwuntu

Suku Touwuntu, adalah suatu Pakasa'an atau anak suku Minahasa provinsi Sulawesi Utara, yang berarti orang-orang yang berada di bawah Pakasaan Touwuntu disebut sebagai orang Touwuntu.

Pakasa'an Touwuntu, terdiri dari beberapa walak, yaitu walak Pasan, walak Ratahan dan walak Ponosakan.

Cerita tentang asal-usul orang Touwuntu, adalah dikatakan bahwa orang Touwuntu sebagai penduduk asli di daerah yang sekarang bernama Ratahan dan Pasan. Pada abad 16 daerah ini termasuk daerah yang ramai dengan lalu lintas perdagangan antara penduduk asli dengan Ternate dan Tidore. Di wilayah ini terdapat pelabuhan Mandolang, yang saat ini bernama Belang. Pada masa pendudukan Raja Mokodompis dari Kerajaan Mongondouw di daerah Tompakewa. Dikisahkan bahwa Lengsangalu dari negeri Pontak, beserta Taranaknya memasuki wilayah selatan Mandolang-Bentenan (Belang). Lengsangalu punya 2 anak laki-laki, yaitu Raliu yang kemudian mendirikan negeri Pelolongan (Toulumawak), yang kemudian jadi Ratahan, dan satu lagi anaknya bernama Potangkuman menikah dengan seorang gadis dari penduduk asli wilayah ini yaitu dari suku Touwuntu, lalu mendirikan negri Tousuraya (Pasan).

Dari cerita di atas, berarti daerah Pasan dan Ratahan pada awalnya adalah dihuni oleh penduduk asli yang disebut orang Touwuntu. Wilayah Touwuntu berada di dataran rendah sampai tepi pantai Toulumawak di pegunungan. Orang Touwuntu sendiri berasal dari keturunan Opok Soputan sekitar abad ke-7.

Penduduk wilayah ini pada abad ke-16, merupakan percampuran antara penduduk asli (orang Touwuntu) dengan para pendatang dari Tombulu, Tompakewa (Tontemboan), Tonsea, Ternate dan para tawanan bajak laut yang diduga dari Sangihe.
Peperangan besar yang melanda wilayah ini dan menghancurkan Pakasa’an Touwuntu, dan terpecah menjadi walak–walak kecil yang saling berbeda bahasa dan adat, yaitu:
  • Walak Ratahan
  • Walak Pasan
  • Walak Ponosakan

Masyarakat Kawanua Jakarta mengusulkan agar wilayah ini dikembalikan lagi menjadi Pakasa’an dengan satu nama, yaitu "Toratan", singkatan dari Tou Ratahan-Pasan-Ponosakan.

Karena negeri orang Ratahan, Pasan dan Ponosakan berada di satu wilayah dengan perkampungan yang saling silang dan berdekatan. Setelah beberapa abad, penduduk di daerah ini banyak terjadi perkawinan campur sejak masa pemerintahan Dotu Maringka, sekitar akhir abad ke-18. Sehingga ketiga walak ini seperti menjadi satu etnis yang tak terpisahkan. Selain itu walau berbeda dialek bahasa, tapi mereka dapat saling mengerti dalam berkomunikasi di antara lain. Karena ketiga Walak ini berasal dari satu Pakasa'an Touwuntu, yang dahulunya sebagai orang Touwuntu.

sumber:

Suku Toundanouw

Suku Toundanouw, adalah suatu Pakasaan Minahasa atau semacam kelompok atau anak suku Miinahasa sejak dahulu menetap di daerah yang memiliki banyak danau, salah satu danau terbesar di daerah pemukiman orang Toundanouw ini adalah danau Bulilin, yang berada di kabupaten Minahasa Tenggara provinsi Sulawesi Utara.

danau Bulilin
Istilah orang Toundanouw ini mirip dengan salah satu etnis Minahasa lain, yang dikenal sebagai orang Tondano, tapi 2 kelompok ini berbeda, karena orang Tondano menetap di daerah sekitar danau Tondano, sedangkan orang Toundanouw hidup di sekitar danau Bulilin yang berada di kabupaten Minahasa Tenggara. Yang menarik dari orang Toundanouw ini adalah, sebelum ada istilah Tondano di daerah Tondano, mereka telah menamakan diri mereka sebagai orang Toundanouw. Selain itu ditinjau dari asal-usul nenek moyang, orang Toundanouw dan orang Tondano berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu berasal dari keturunan orang-orang dari Tifore (Tafure atau Tidore), yang pada awalnya menetap di daerah Atep yang hijrah ke pedalaman. Sehingga kedua etnis ini memiliki kebiasaan yang sama, yaitu hidup di sekitar danau.

Pada masa lalu, ketika suku-suku di Minahasa belum bersatu, sering terjadi peperangan antar suku, bahkan sempat terjadi pengayauan (potong kepala) di antara mereka. Melihat peperangan antar walak (kelompok Taranak) terus berlangsung, sekitar tahun 670, beberapa Walian dan Tonaas menyadari akan pentingnya suatu musyawarah di dalam usaha menciptakan kembali akan persatuan dan kesatuan yang berlangsung di sekitar kaki Gunung Tonderukan. Di tempat itu, terdapat sebuah batu “Tumotowa” tempat pelaksanaan ritual Poso (J. G. F. Riedel, The Minahasa, 1862). Kendati berlangsung alot, namun musyawarah yang dipimpin oleh Tonaas Kapero yang berasal dari kelompok Pasiowan Telu bersama Muntu Untu dari golongan Makarua Siow sebagai panitera/notulis dan Mandey sebagai saksi, berhasil mencapai beberapa kesepakatan penting, di antaranya:
  • menerima penetapan pembagian pemukiman setiap kaum Taranak
  • setiap kaum Taranak dapat mengembangkan ketentuan adat dan ritual yang tetap berlandaskan kepercayaan terhadap Empung Walian Wangko (Tuhan Yang Maha Agung) dan opo (leluhur).
  • setiap kaum Taranak dapat mengembangkan bahasa sesuai kehendak masing-masing, namun semuanya tetap mengaku sebagai satu Kasuruan, yang tidak dapat dicerai-beraikan oleh siapapun.
Selanjutnya pembagian wilayah pemukiman diatur dan dibagi menjadi 7 Taranak, salah satunya adalah Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Kamboyan, menuju ke dataran sekitar Danau Bulilin, tempat asal mereka semula dan mendiami pemukiman di Bukit Batu, Kali dan Abur. Kelompok dan keturunan mereka inilah yang disebut orang Toundanouw, yang berarti "orang yang tinggal di sekitar air".

Pakasa'an Toundanouw berasal dari Pakasa'an Tountewoh, yang terpecah menjadi 3 pakasa'an, yaitu Pakasa'an Tonsea, Pakasa'an Tondano dan Pakasa'an Toundanouw. 
Sedangkan Pakasa'an Toundanouw terdiri dari 2 walak, yaitu walak Tombatu dan walak Tonsawang, yang sekarang menjadi etnis tersendiri di wilayah kabupaten Minahasa Tenggara.
Walak Tombatu dan walak Tonsawang, hidup berdampingan di satu wilayah di kabupaten Minahasa Tenggara, dan banyak terjadi perkawinan silang di antara mereka, sehingga saat ini mereka lebih populer dengan sebutan sebagai orang Tonsawang, tapi mereka juga tetap mengakui diri mereka sebagai satu kesatuan sebagai orang Toundanouw.

keterangan:
  • pakasa'an :  kelompok (anak suku Minahasa)
  • walak        :  klan (kelompok yang lebih kecil dari pakasa'an)
sumber:
sumber lain dan foto:
  • mop-1.blogspot.com

Suku Tombatu

orang Tombatu
Suku Tombatu (Toumbatu), adalah masyarakat yang menetap di kabupaten Minahasa Tenggara provinsi Sulawesi Utara.

Tombatu, adalah suatu Walak yang berasal dari Pakasaan Toundanouw, yang terbagi 2 walak, salah satunya adalah Walak Tombatu, sedangkan satu lagi adalah Walak Tonsawang.
Asal-usul orang Tombatu yang dari pecahan Pakasaan Toundanouw daerahnya terdapat beberapa danau dan danau yang terbesar adalah danau Bulilin. Oleh karena itu orang Tombatu disebut juga sebagai orang Toundanouw.
Orang Tombatu banyak berbaur dengan orang Tonsawang dan terjadi perkawinan campur, dan menetap di daerah yang sama, sehingga antara kedua kelompok ini agak susah dibedakan, sehingga saat ini cenderung disamakan sebagai orang Tonsawang.

Penyebaran orang Tombatu adalah di desa Molompar Satu, Molompar dua, Kuyanga, Tombatu 1, Tombatu 2, Tombatu 3, Betelen, Mundung, Mundung 1, Esandom, Winorangian, Tonsawang (Nevy Kawulusan).  Letak daerah Tombatu berada di sebelah selatan gunung Soputan, sekitar 15 km dari ibukota kabupaten: Ratahan.

Masyarakat Tombatu hampir seluruhnya memeluk agama Kristen Protestan, yang berkembang di kalangan masyarakat Tombatu sejak abad 19. Sebenarnya sejak abad 16 mereka telah memeluk agama Kristen Katolik. Tapi sejak kehadiran Belanda di wilayah mereka, banyak orang Tombatu yang beralih ke agama Kristen Protestan. Di pemukiman orang Tombatu banyak terdapat gereja dari berbagai denominasi gereja. Gereja yang paling menonjol adalah gereja GMIM, Pantekosta, Advent dan Katolik. Putra-putri Tombatu banyak yang menjadi pendeta dan gembala sidang di perantauan, misalnya Noch Supit gembala GPdI di Riau, Pdt. Piet Tiouw di Bagansiapi-api, Pdt. James Pangau di Jakarta, Ferdinand Kindangen di daerah Sulawesi Selatan, Pdt. Buce Pelleng di Tonasa - Makassar, Pdt. DR. Ruddy Alow, M.Div {Bandung); dan Pdt. Freddy Tondatuon (Sulteng).

tempat wisata di danau Bulilin
Masyarakat Tombatu memiliki tradisi gotong royong yang disebut "Mapalus". Anggota mapalus dalam jumlah puluhan disebut Kelup. Kelompok kelup tersebut biasanya membangunkan anggota mereka pada jam 03.00 subuh dengan terompet. Suara terompet tersebut akan membangunkan masyarakat seluruh kampung. Anggota "Mapalus" segera bangun, mempersiapkan diri untuk berangkat ke kebun. Dalam perjalanan ke kebun, mereka berjalan berjejer seperti "kaki seribu" yang diiringi dengan berbagai alat musik, seperti tambur, gendang, dan lain-lain, yang dipukul secara berirama oleh 4-5 orang, sampai ke tempat tujuan. Mereka bekerja selama 8 jam sehari. Petang hari mereka akan pulang berjalan kaki dengan cara yang sama dan menuju kampung, biasanya banyak anak-anak yang berdiri di pinggir jalan menanti kedatangan grup Mapalus, karena waktu mereka berangkat pagi-pagi, anak-anak itu belum bangun.

Masyarakat Tombatu, seperti kelompok sub-suku Minahasa pada umumnya hidup pada bidang pertanian terutama pada kopra, cengkeh dan vanili. Dahulu mereka sempat menanam padi di sawah, tapi beberapa tahun belakangan areal sawah di daerah Tombatu banyak yang ditimbun dengan tanah dan dibangun rumah-rumah penduduk, yang menjadi perkampungan baru bagi penduduk Tombatu.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • youtube.com
  • griyawisata.com

Suku Pasan

Suku Pasan (Tousuraya), adalah termasuk sub-suku Minahasa yang terdapat di Sulawesi Utara. Suku Pasan tersebar di kecamatan Pasan, di Towuntu Timur, kampung Towuntu, Liwutung, Tolambukan dan Watulinei. Populasi suku Pasan diperkirakan lebih dari 15.000 orang pada sensus tahun 1989.

musik Bambu, suku Pasan
Suku Pasan, telah lama hidup berdampingan dengan suku Ratahan di suatu wilayah, sehingga di antara kedua suku ini agak susah dibedakan, lagipula kedua suku ini menggunakan bahasa dan adat-istiadat yang sama. Suku Pasan dahulu bernama suku Tousuraya. Suku ini berasal dari Pakasa'an Touwuntu, yang terdiri dari 2 walak, yaitu Tousuraya (sekarang menjadi suku Pahan) dan Toulumalak (sekarang menjadi suku Ratahan).

Menurut cerita sejarah Minahasa, pada masa lalu Raja Babontehu, menaklukkan daerah Teluk Tomini. Lalu sang Raja itu mengawini seorang Putri Raja dari teluk Tomini dan menetap di tempat itu. Setelah sekian lama keturunan mereka semakin banyak. Pada suatu saat sang Raja tersebut dikalahkan oleh Raja Loloda Bolaang Mongondow. Lalu sang Raja membawa membawa keturunan-keturunannya beserta pengikutnya ke daerah Minahasa (diperkirakan di Manado). Seluruh keturunan dan pengikutnya yang berasal dari Teluk Tomini banyak yang melakukan kawin-campur orang Minahasa. Setelah beberapa lama, mereka melanjutkan perjalanan menuju daerah yang lebih aman di sebelah Timur (Tenggara) Minahasa dan keturunan-keturunannya inilah yang disebut sebagai Suku Pasan.

Menurut versi lain sejarah Minahasa, disebutkan kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Wuntu, menuju ke Bentenan. Mereka mendirikan pemukiman di Ratan. Mereka ini lah yang disebut suku Ratahan. Sedangkan yang menuju ke Towuntu (Liwutung), disebut suku Tou Pasan. Sekelompok orang Tou Pasan mengadakan tumani dan bermukim di Tawawu (Tababo), Belang dan Watuliney, membaur dengan penduduk dari Taranak Ponosakan, yaitu keluarga Butiti, Wumbunan dan Tubelan yang datang dari Wulur Mahatus (Pontak), dan mereka disebut sebagai suku Tou Ponosakan.

Seperti suku Ratahan, masyarakat suku Pasan juga kebanyakan hidup pada bidang pertanian. Pada tanaman padi, jagung, cengkeh, kopra dan lain-lain. Berbagai bidang profesi juga mereka jalani, seperti pedagang, pegawai, guru dan sebagainya.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • 4shared.com

Suku Ratahan

patung Maringka
pendiri Ratahan 
Suku Ratahan (Toulumalak) disebut juga sebagai suku Bentenan, merupakan sub-suku Minahasa yang terdapat di provinsi Sulawesi Utara. Suku Ratahan, terutama berada di kecamatan Ratahan kabupaten Minahasa Tenggara, dan tersebar di sekitar kota Ratahan, di kampung-kampung Ratahan, Wioi, Wiau, Wongkai, Wawali, Rasi, Minanga, Molompar dan Bentenan. Populasi suku Ratahan diperkirakan lebih dari 15.000 orang pada sensus tahun 1989.

Suku Ratahan, hidup berdampingan dengan suku Pasan di suatu wilayah, sehingga di antara kedua suku ini susah dibedakan, selain itu kedua suku ini menggunakan bahasa dan adat-istiadat yang sama. Suku Ratahan dahulu bernama suku Toulumalak. Suku ini berasal dari Pakasa'an Touwuntu, yang terdiri dari 2 walak, yaitu Toulumalak (sekarang menjadi suku Ratahan) dan suku Tousuraya (sekarang menjadi suku Pahan).

Suku Ratahan bergabung dengan perserikatan Minahasa sekitar tahun 1690. Menurut sejarah bahwa nenek moyang pada awalnya berasal dari Minahasa, tapi mereka berperang dan pindah ke daerah Sulawesi Tengah, tapi kemudian mereka kembali ke daerah Minahasa, dan memiliki keterkaitan darah pada masa lalu, sehingga mereka menggabungkan diri dalam adat-istiadat Minahasa.

tari Cakalele
Menurut sejarah Minahasa, disebutkan kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Wuntu, menuju ke Bentenan. Mereka mendirikan pemukiman di Ratan. Mereka ini lah yang disebut suku Ratahan. Sedangkan yang menuju ke Towuntu (Liwutung), disebut suku Tou Pasan. Sekelompok orang Tou Pasan mengadakan tumani dan bermukim di Tawawu (Tababo), Belang dan Watuliney, membaur dengan penduduk dari Taranak Ponosakan, yaitu keluarga Butiti, Wumbunan dan Tubelan yang datang dari Wulur Mahatus (Pontak), dan mereka disebut sebagai suku Tou Ponosakan.

Orang Ratahan pada masa dahulu menganut sistem kepercayaan tradisional yang bersifat monotheisme dan mengandung unsur animisme. Pada saat bangsa Eropa tiba di Minahasa, agama Kristen diterima dengan tangan terbuka. Pada mulanya agama Kristen Katolik disebarkan oleh misionaris bangsa Spanyol dan Portugis abad ke-16 dan 17 dan dilanjutkan abad ke-19, Belanda masuk di Minahasa, agama Kristen Protestan berkembang dengan pesat, banyak penganut Katolik beralih ke Protestan. Penyebaran Protestan dilakukan oleh zendeling (pekabar injil Belanda) berkebangsaan Jerman dan Belanda. Kedudukan kolonial Belanda yang bertahan selama tiga abad di Minahasa menyebabkan orang Ratahan banyak memeluk aliran Protestan.

Masyarakat suku Ratahan, hidup pada bidang pertanian. Mereka menanam padi, sayur dan buah-buahan. Beberapa tanaman keras seperti cengkeh, kopra dan salak menjadi tanaman utama mereka. Para perempuan banyak yang berprofesi sebagai penenun kain khas Bentenan. Selain itu bidang profesi lain juga mereka tekuni seperti menjadi pedagang, guru, pegawai dan lain-lain.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • onaytololiu.blogspot.com
  • explore-north-sulawesi.blogspot.com

    Suku Tombulu

    tari Maengket suku Tombulu
    Suku Tombulu (Toumbulu), adalah salah satu suku tua di tanah Malesung (Proto Minahasa/ Minahasa Tua), yang terdapat di provinsi Sulawesi Utara. Suku Tombulu, terkonsentrasi di Tomohon yang mendiami daerah kota Tomohon, kecamatan Tombariri, kecamatan Pineleng, kecamatan Tombulu, kecamatan Wori, Likupang Barat dan ibukota Sulawesi Utara kota Manado. Populasi suku Tombulu diperkirakan lebih dari 60.000 orang pada sensus 1981.

    Suku Tombulu, memiliki 8 walak (klan), yaitu:
    • Tomohon (Tou Muung)
    • Sarongsong
    • Tombariri
    • Kakaskasen
    • Ares
    • Maumbi (Kalawat Atas)
    • Kalawat Wawa (Klabat Bawah) di Paniki
    • Likupang.

    Saat ini terdapat suatu Organisasi Adat Pakasaan Tombulu yang aktif melestarikan dan mengembangkan budaya suku Tombulu, yang dipimpin oleh mantan Wakil Walikota Tomohon Syennie-Smits Watoelangkow. Organisasi masyarakat ini telah membangun suatu amfiteater dengan pemandangan indah ke gunung Lokon yang masih aktif dan gunung Empung. Di tempat-tempat ini lah dahulu suku Tombulu menganggap pemukiman dewa-dewa mereka. Di sekitar amfiteater terdapat banyak mata air yang konon kabarnya bisa menyembuhkan penyakit dan membuat lebih pintar.
    Di kompleks Organisasi Pakasaan Tombulu yang bernama Rano Walanda, terdapat banyak Waruga. Waruga adalah batu yang berlubang, yang pada masa dahulu digunakan sebagai tempat meletakkan mayat orang di dalam dan menutupinya dengan batu berukir besar. Lokasi amfiteater Rano Walanda terdapat di desa Woloan I di kota Tomohon.

    Asal-usul suku Tombulu, menurut cerita rakyat (legenda/ mitos) seperti yang ditulis Pdt.M.Ph. Wilken dan Graflaand, yang tersimpan secara turun temurun dalam masyarakat suku Tombulu, adalah nenek moyang pertama di Minahasa adalah Opo Toar dan Lumimuut. Menurut ceritanya mereka hanyut terbawa arus dari arah utara, lalu terdampar di pantai barat Minahasa, di batu karang yang dinamai Batu Kapal yang terletak di daerah Sapa (kecamatan Tenga kabupaten Minahasa Selatan sekarang). Mereka hanyut terbawa arus air bah. Dalam tulisan Dr. Riedels Zano Simezuk Wangko, air bah merendam seluruh dataran sampai ke puncak gunung Lokon, Gunung Mahwu, dan gunung Soputan.
    Opo Toar dan Lumimuut, berdiam di sekitar gunung Wulur Mahatus. Kemudian pindah ke sekitar Niutakan dekat Tompasu Baru. Di Tempat baru ini Opo Toar kawin dengan Lumimuut. Setelah sekian lama ternyata jumlah mereka bertambah banyak dan memenuhi daerah itu, sehingga mereka mulai menyebar ke seluruh Malesun (Minahasa). Awalnya terdapat 25 kepala keluarga yang menyebar, salah satunya antara lain keluarga Pinontoan dan istrinya Ambilingan dengan 6 orang anaknya. Mereka datang ke dataran gunung Lokon. Keturunan dari keluarga inilah yang diyakini menurunkan "suku Tombulu".

    Suatu tulisan di Facebook, yang diposting oleh Kennedy Polakitan, menceritakan penyebaran suku Tombulu berdasarkan sejarah Minahasa. Pada awal penyebaran suku Tombulu sekitar abad 10, suku Tombulu di Wanua Meijesu diperintah oleh Lumoindong putra dari Walian Pukul, ditimpa wabah penyakit yang menewaskan banyak penduduk. Oleh karena itu suku Tombulu terpencar dan keluar mencari pemukiman baru. Tempat-tempat yang dituju sebagai pemukiman baru dan terbentuknya beberapa walak pada suku Tombulu, adalah:
    1. Tonaas Tumbelwoto, memimpin sebagian orang Tombulu pergi tumani ke Wanua Tula’u hingga terbentuklah walak Saronsong,
    2. Sebagian rakyat berpindah ke Kinilow Tu’a. Tonaas Ka’awoan meninggalkan Kinilow Tu’a memimpin sebagian orang Tombulu pergi kearah barat ke suatu tempat yang terdapat rumput yang dinamai Wariri, sebagian orang yang menetap di sana disebut Touwariri, lalu sebutannya menjadi orang Tombariri.
    3. Selanjutnya dari sana sebagian rakyat yang dipimpin oleh Walian Lokon Mangundap, Kalele, Apor, Karundeng, Kapalaan, dan Posumah,  mendirikan negeri baru yang dinamai Katinggolan yang merupakan cikal bakal dari terbentuknya Wanua Woloan.
    4. Tonaas Mokoagow juga meninggalkan Kinilow Tu’a dan pergi tumani ke Wanua Mu’ung dan Kamasi membentuk Tou Mu’ung (Tomohon).
    5. Tonaas Ticonumu dan Tuerah pergi tumani ke Wanua Kakaskasen dan membentuk Walak Kakaskasen,
    6. Tonaas Lolong lasut dan Ruru pergi tumani ke Wanua Wenang dan Ares membentuk Walak Ares (di kota Manado sekarang).
    7. Dari Kinilow Tu’a beberapa taranak pergi tumani ke Wanua kali dari sana Tonaas Alow pergi melintasi sungai wenang utara, lalu tumani ke Wanua Kalawat atas dan membentuk Kalawat atas yang kemudian berubah menjadi Kalawat Maumbi.
    8. Dari Kalawat Atas keluar Tonaas Kondoy, Wangko Saumanan pergi ke barat tumani ke Wanua Kalawat Kalewosan yang kemudian menjadi Wanua ure, kini disebut Komo Luar. Kalawat Kalewosan ini kemudian menjadi Kalawat Wawa, ibu negeri Wanua ure.
    9. Tonaas Kalengkongan beserta sebagian rakyat meninggalkan Kalawat Atas dan Kalawat Wawa, pergi tumani ke Wanua Likupang. Menimbulkan Walak Likupang.
    Jadi suku Tombulu telah pecah menjadi beberapa walak. Tetapi pada abad 15, Tonaas Dotulong, Tidajoh Koagow dari Pakasaan Tonsea telah merampas Wilayah Dimembe, suatu wilayah yang sangat luas sekali.

    Cakalele
    Orang Tombulu dalam keseharian di dalam lingkungan sesama orang Tombulu, menggunakan bahasa Tombulu. Bahasa Tombulu ini merupakan salah satu dialek bahasa Minahasa. Bahasa Tombulu lumayan terkenal, karena beberapa lagu daerah yang populer kebanyakan berasal dari bahasa Tombulu, seperti lagu "O Ina Ni Keke".

    Dalam hal kepercayaan, seperti sub-suku Minahasa lain pada umumnya memeluk agama Kristen, begitu pula suku Tombulu ini adalah pemeluk agama Kristen. Agama Kristen telah lama berkembang dalam lingkungan masyarakat suku Tombulu, Diperkirakan mereka memeluk agama Kristen sejak kehadiran bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda ke tanah Minahasa ini.

    Masyarakat suku Tombulu pada dasarnya hidup sebagai petani. Mereka menanam padi di sawah dan ladang. Selain padi mereka juga menanam beberapa jenis sayur-sayuran dan buah-buahan. Juga beberapa tanaman keras seperti cengkeh dan kopra.

    sumber:
    sumber lain dan foto:
    • sroogle.ru
    • fopmakat.wordpress.com

    Suku Tonsawang

    Suku Tonsawang, adalah salah satu sub-suku Minahasa yang berada di provinsi Sulawesi Utara. Suku Tonsawang, berada di daerah administratif kecamatan Tombatu dan Touluaan. Populasi suku Tonsawang diperkirakan lebih dari 20.000 orang pada sensus tahun 1981.

    Suku Tonsawang ini berasal dari Pakasa'an Toundanouw, menurut sejarah, dikatakan bahwa dahulu di daerah pantai Amurang terdapat sebuah danau, dan arah tenggara danau terdapat sebuah daerah perbukitan bernama Batu, di tempat itu berdiam sekelompok orang yang menyebut dirinya sebagai orang “Toundanouw”, yang berarti "orang dari air". Orang Toundanouw ini terbagi menjadi 2 kelompok, salah satunya adalah yang sekarang disebut sebagai orang Tonsawang., sedangkan kelompok satu lagi disebut orang Tombatu.

    Menurut cerita lain, nenek moyang orang Tonsawang, dikatakan berasal dari pulau kecil Mayu dan Tafure (Tifore atau Tidore) di selat Maluku yang mendarat di Atep, kemudian melanjutkan perjalanan ke Tompaso, dan kemudian melanjutkan perjalanan lagi menuju ke tempat mereka sekarang ini.

    Walaupun mereka menyebut diri mereka sebagai orang Tonsawang, tapi kadang-kadang mereka menyebut diri mereka juga sebagai orang Toundanouw. Karena dilihat dari asal-usul, bahwa orang Tonsawang bersama orang Tombatu, adalah berasal dari keturunan orang Toundanouw.

    Lesung Batu Nawo Oki
    Di wilayah pemukiman suku Tonsawang, terdapat peninggalan sejarah yang dikenal dengan nama Lesung Nawo Oki yang telah berumur ratusan tahun. Penemuan ini menunjukkan bahwa di wilayah hunian suku Tonsawang ini sejak dahulu telah dihuni manusia, yaitu dengan adanya Lesung Nawo Oki ini. Lesung Batu Nawo Oki ini berkaitan erat dengan legenda Raja Nawo Oki, yaitu nama pemimpin orang Tonsawang pada masa lalu, sekitar abad 17.

    Masyarakat suku Tonsawang, mayoritas adalah pemeluk agama Kristen. Agama Kristen berkembang dengan pesat di daerah ini sejak masuknya bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda ke daerah ini sekitar akhir abad 17.

    Suku Tonsawang pada umumnya hidup sebagai petani. Menanam berbagai jenis tanaman, seperti padi dan jagung serta sayur-sayuran dan buah-buahan. Selain itu mereka juga menanam tanaman keras seperti cengkeh, kopra dan lain-lain.

    sumber:
    sumber lain dan foto:
    • ardypelealu.wordpress.com

    Suku Tonsea

    suku Tonsea
    Suku Tonsea, adalah salah salah satu sub-suku Minahasa yang berada di provinsi Sulawesi Utara. Daerah pemukiman suku Tonsea ini berada di kabupaten Minahasa Utara meliputi daerah semenanjung Sulawesi, kota Bitung, Airmadidi, Kauditan, Kema, kota Bitung, Tatelu, Talawaan dan Likupang Timur. Populasi suku Tonsea diperkirakan lebih dari 90.000 orang pada sensus tahun 1989.

    Suku Tonsea berasal dari pakasa'an Tountewoh, yang merupakan anak suku Minahasa. Orang Tonsea berbicara menggunakan bahasa Tonsea. Bahasa Tonsea merupakan salah satu dialek bahasa Minahasa.
    Bahasa Tonsea sendiri memiliki beberapa dialek, yaitu: 
    • dialek Maumbi
    • dialek Airmadidi
    • dialek Likupang
    • dialek Kauditan
    • dialek Klabat
    • dialek Bitung

    Waruga
    tempat bersejarah
    di Airmadidi
    Dialek-dialek di atas, tidaklah terlalu berbeda jauh, karena setiap pemakai dialek yang berbeda wilayah bisa saling berkomunikasi dengan baik menggunakan dialeknya masing-masing, apabila bertemu.
    Pada masa sekarang ini, bahasa Tonsea sendiri mengalami penurunan dalam jumlah penuturnya, akibat dominasi dari bahasa Melayu Manado yang cenderung semakin dipakai oleh golongan generasi muda suku Tonsea.

    Pada abad 17, suku Tonsea dipimpin oleh seorang yang bernama Xaverius Dotulong, sebagai pemimpin dari suku Tonsea yang berkedudukan di Kema. Saat berkorespondensi dengan Gubernur Ternate Robertus Padtbrugge, Xaverius Dotulong menggunakan bahasa Melayu yang ternyata sudah banyak digunakan oleh pedagang-pedagang yang berdagang di wilayah kepulauan Maluku. Xaverius Dotulong adalah anak dari Runtukahu Lumanauw yang tinggal di Kema dan merintis pembangunan pertama kali di wilayah adat suku Tonsea.

    Silsilah Dotulong:




































    Mayoritas suku Tonsea adalah pemeluk agama Kristen. Agama Kristen tumbuh dengan kuat dalam kehidupan masyarakat suku Tonsea, terlihat dari banyaknya bangunan gereja yang berdiri di setiap pemukiman masyarakat suku Tonsea. Mereka sering mengadakan kegiatan di gereja. Kegiatan gereja adalah sangat penting bagi kehidupan mereka.

    Masyarakat suku Tonsea, pada umumnya berprofesi sebagai petani. Mereka menanam beberapa jenis sayuran, termasuk jagung, beberapa jenis buah-buahan. Selain itu mereka juga menanam tanaman keras seperti cengkeh. Pada bidang profesi lain, orang Tonsea berprofesi sebagai pedagang, guru, pegawai negeri dan di sektor-sektor swasta. Saat ini banyak orang Tonsea yang merantau ke daerah lain, seperti Manado, Makasar atau ke pulau-pulau lain, seperti Papua, Maluku, Sumatra, Jawa dan Kalimantan.

    sumber:
    sumber lain dan foto:
    • pesonaminut.blogspot.com
    • klabatnews.com