Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts
Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts

Suku Jawa

suku Jawa
Suku Jawa, adalah salah satu suku yang terdapat di Indonesia, dan merupakan suku yang memiliki populasi terbesar di pulau Jawa, bahkan di Indonesia. Populasi suku Jawa diperkirakan lebih dari 40% dari total jumlah penduduk Indonesia, yaitu sekitar 100 juta orang.

Suku Jawa hampir ada di segala penjuru Indonesia, mulai dari daerah provinsi Sumatra Utara hingga ke wilayah paling timur Indonesia, yaitu provinsi Papua.

Suku Jawa pada awalnya bukanlah suku perantau, tapi sejak masa penjajahan Belanda, banyak orang Jawa yang dipindahkan sebagai buruh yang ditempatkan di beberapa daerah, seperti pertama kali di Sumatra Utara, sebagai buruh-buruh kontrak di perkebunan, yang dilanjutkan ke daerah-daerah lain. Selain itu pada zaman Suharto, banyak orang Jawa yang dipindahkan dari tempat asalnya, ke daerah-daerah lain di Indonesia, seperti ke Lampung-Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain. Populasi orang Jawa yang begitu besar, membuat banyak orang Jawa yang berada di bawah garis kemiskinan.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, sekolompok orang Jawa pernah dibawa ke Suriname di Amerika Selatan, sebagai buruh pekerja paksa, yang akhirnya tetap menetap di negara tersebut hingga saat ini, dan membentuk suatu komunitas tersendiri di Suriname sebagai etnis Jawa, yang tetap mempertahankan adat-istiadat serta budaya Jawa.

Orang Jawa terkenal karena keramahan dan sopan santun apabila berbicara dengan orang lain. Mereka juga tidak mudah tersinggung dalam menghadapi orang lain, mereka juga suka bercanda dan periang, serta bisa menempatkan diri di hadapan kelompok etnis lain. Karena sifat dan karakter seperti ini lah yang membuat mereka bisa hidup dan berbaur dengan suku bangsa dari mana saja.

Orang Jawa berbicara dalam bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari, tapi mereka juga bisa berbicara dalam bahasa Indonesia dengan dialek yang kental, untuk berkomunikasi dengan suku-suku lain. Masyarakat suku Jawa yang telah bermukim di luar pulau Jawa, seperti di Sumatra Utara dan yang terdapat di daerah Tondano provinsi Sulawesi Utara, para generasi mudanya kebanyakan sudah tidak bisa berbahasa Jawa lagi, mereka cenderung menggunakan bahasa-bahasa dan dialek setempat.

Dalam bahasa Jawa, pada dasarnya terdiri dari 3 kasta bahasa, yaitu:
  • Ngoko (kasar)
  • Madya (biasa)
  • Krama (halus)

Dalam bahasa Jawa penggunaan tingkatan bahasa tersebut, tergantung status yang bersangkutan dan lawan bicara. Status bisa ditentukan oleh usia, posisi sosial, atau hal-hal lain. Seorang anak yang bercakap-cakap dengan sebayanya akan berbicara dengan varian ngoko, namun ketika bercakap dengan orang tuanya akan menggunakan krama andhap dan krama inggil. Sistem semacam ini masih dipakai di Surakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Dialek lainnya cenderung kurang memegang erat tata-tertib berbahasa semacam ini.

Terdapat juga bentuk bagongan dan kedhaton, yang hanya dipakai sebagai bahasa pengantar di lingkungan keraton. Dengan demikian, dikenal bentuk-bentuk ngoko lugu, ngoko andhap, madhya, madhyantara, krama, krama inggil, bagongan dan kedhaton.

contoh kalimat:
  • Bahasa Indonesia, "maaf, saya mau tanya rumah Budi itu, di mana?"
  • Ngoko kasar, “eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
  • Ngoko alus, “aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
  • Ngoko meninggikan diri sendiri, “aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?” (ini dianggap salah oleh sebagian besar penutur bahasa Jawa karena menggunakan leksikon krama inggil untuk diri sendiri)
  • Madya, “nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?” (ini krama desa (substandar))
  • Madya alus, “nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?” (ini juga termasuk krama desa (krama substandar))
  • Krama andhap, “nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?” (dalem itu sebenarnya pronomina persona kedua, kagungan dalem 'kepunyaanmu'. Jadi ini termasuk tuturan krama yang salah alias krama desa)
  • Krama lugu, “nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
  • Krama alus, “nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”

Masyarakat suku Jawa sebagian besar memeluk agama Islam. Sebagian lain memeluk agama Kristen Protestan dan Kristen Katolik, sebagian kecil tetap mempertahankan agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai Kejawen. Sedangkan sisanya memeluk agama Hindu dan Buddha. Dalam masyarakat Jawa memiliki sifat sinkretisme kepercayaannya. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur.

Dalam kehidupan orang Jawa, terutama yang berada di Jawa Tengah dan D.I. Jogjakarta, dikenal 3 golongan sosial, yaitu:
  • Santri, santri adalah penganut agama Islam yang taat
  • Abangan, abangan adalah penganut Islam secara nominal atau penganut Kejawen
  • Priyayi, adalah kaum bangsawan

Wayang Jawa
Dalam kehidupan orang Jawa banyak memiliki budaya seni yang dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha, salah satunya adalah wayang yang berisi cerita-cerita dari India, yaitu Ramayana, Mahabrata dan Bratayudha. Selain itu ada seni batik dan musik gamelan.

Masyarakat suku Jawa pada umumnya memiliki profesi sebagai petani. Kehidupan petani sangat kental dan tradisi orang Jawa, terutama yang hidup di pedesaan. Padi menjadi tanaman utama bagi masyarakat suku Jawa, selain itu mereka juga menanam berbagai jenis sayur-sayuran serta buah-buahan. Mereka juga menanam tembakau, cengkeh, kelapa, tebu, dan lain-lain.
Masyarakat suku Jawa yang tinggal di perkotaan, memiliki profesi yang beragam, bagi yang berpendidikan rendah menjadi pedagang, buruh bangunan. Sedangkan yang memiliki pendidikan lebih baik, biasanya menjadi pegawai di kantor-kantor pemerintah dan kantor-kantor swasta. Selain itu banyak juga orang Jawa yang mencari penghidupan di luar negeri, seperti menjadi TKI di Malaysia dan daerah timur tengah.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • mengenalbudayajawa.blogspot.com
  • pannyuppy.blogspot.com

Suku Samin

masyarakat suku Samin
Suku Samin, adalah suatu kelompok masyarakat yang terdapat di daerah Blora provinsi Jawa Tengah dan Bojonegoro provinsi Jawa Timur.

Pemukiman suku Samin ini berada di tengah hutan, mereka sengaja menjauhkan diri dari kehidupan keramaian dan menjalankan tradisi hidup mereka yang berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Mereka memperlakukan alam dengan baik. Mengambil kayu bakar hanya seperlunya dan tidak mengeksploitasi secara berlebihan. Mereka lebih suka berjalan kaki, sejauh apapun yang mereka tempuh. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia.
Semua ini mereka jalani karena sesepuh mereka, Samin Surosinteko merupakan penentang keras materialisme dan kapitalisme yang dibawa oleh kolonial Belanda.

Orang Samin berbicara menggunakan bahasa Kawi yang dikombinasikan dengan dialek setempat, yaitu bahasa Kawi desa kasar. Suku Samin mengalami perkembangan dalam hal kepercayaan dan tata cara hidup. Kawasan daerah Pati dan Brebes, terdapat pecahan suku Samin yang disebut Samin Jaba dan Samin Anyar, yang telah meninggalkan tatacara hidup suku Samin dahulu. Selain itu, di Klapa Duwur (Blora) Purwosari (Cepu), dan Mentora (Tuban) dikenal Wong Sikep, mereka ini dulunya fanatik, tapi kini meninggalkan tata cara hidup dan keyakinan suku Samin yang dahulu, dan memilih agama resmi, yakni agama Budha-Dharma.

Ajaran dan kepercayaan Saminisme, muncul sebagai akibat atau reaksi dari pemerintah kolonial Belanda yang sewenang-wenang. Perlawanan dilakukan tidak secara fisik tetapi berwujud penentangan terhadap segala peraturan dan kewajiban yang harus dilakukan rakyat terhadap Belanda misalnya dengan tidak membayar pajak. Terbawa oleh sikapnya yang menentang tersebut mereka membuat tatanan, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan tersendiri yang akhirnya terbentuk suatu komunitas tersendiri serta kepercayaan dan tata cara hidup tersendiri, dan komunitas mereka ini disebut suku Samin.

Tokoh perintis ajaran Samin Raden Surowijoyo. Pengetahuan intelektual Kyai Samin ini didapat dari ayah, yaitu anak dari pangeran Kusumaniayu (Bupati Sumoroto). Laki-laki kelahiran tahun 1859, Raden Surowijoyo melakukan perampokan pada keluarga kaya dan hasilnya dibagi-bagi kepada fakir miskin (mirip kisah Robinhood, atau Robinhood ala Jawa). Gerakan agresif revolusioner Kyai Samin Surosantiko, dicekal oleh Belanda dan dibuang ke Tanah Lunto pada tahun 1914. Kyai Samin Surosantiko merupakan generasi Samin Anom yang melanjutkan gerakan dari sang Ayah yang disebut sebagai Samin Sepuh..

sesepuh suku Samin
Samin yang ditulis dalam bahasa jawa baru yaitu dalam bentuk puisi tradisional (tembang macapat) dan prosa (gancaran). Secara historis ajaran Samin ini berlatar dari lembah Bengawan Solo (Boyolali dan Surakarta). Ajaran Samin berhubungan dengan ajaran agama Syiwa-Budha, sebagai sinkretisme antara Hindhu-Budha. Namun pada perjalannnya ajaran ini juga dipengaruhi oleh ajaran ke-Islaman yang berasal dari ajaran Syeh Siti Jenar yang dibawa oleh muridnya yaitu Ki Ageng Pengging. Sehingga patut dicatat bahwa orang Samin merupakan bagian masyarakat yang berbudaya dan religius. Daerah persebaran ajaran Samin menurut Sastroatmodjo (2003) diantaranya di Tapelan (Bojonegara), Nginggil dan Klopoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunngsegara (Brebes), Kandangan (Pati) dan Tlaga Anyar (Lamongan). Ajaran di beberapa daerah ini merupakan sebuah gerakan meditasi dan mengerahkan kekuatan batiniah guna menguasai hawa nafsu. Sebab perlawanan orang Samin sebenarnya merefleksikan kejengkelan penguasa pribumis etempat dalam menjalankan pemerintahan di Randublatung.

Lima aturan dalam ajaran Samin:
  • tidak bersekolah
  • tidak memakai peci, tapi memakai "iket", yaitu semacam kain yang diikat di kepala
  • tidak berpoligami
  • tidak memakai celana panjang, dan hanya pakai celana selutut
  • tidak berdagang

Pokok-pokok ajaran Saminisme
  • Agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya.
  • Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka irihati dan jangan suka mengambil milik orang lain.
  • Bersikap sabar dan jangan sombong.
  • Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama denganroh dan hanya satu dibawa abadi selamanya.Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, namun hanya menanggalkan pakaiannya.
  • Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur dan saling menghormati. Berdagang bagi orang Samin dilarang karena tertulis dalam Kitab Suci Orang Samin.

Daerah penyebaran dan para pengikut ajaran Samin pertama kali tersebar di daerah Klopoduwur, Blora provinsi Jawa Tengah. Pada 1890 pergerakan Samin berkembang ke dua desa hutan kawasan Randublatung kabupaten Bojonegoro provinsi JawaTimur.

sumber:
sumber lain dan foto:
  • primbondonit.blogspot.com
  • suhadirembang.blogspot.com