![]() |
| suku Jawa |
Suku Jawa hampir ada di segala penjuru Indonesia, mulai dari daerah provinsi Sumatra Utara hingga ke wilayah paling timur Indonesia, yaitu provinsi Papua.
Suku Jawa pada awalnya bukanlah suku perantau, tapi sejak masa penjajahan Belanda, banyak orang Jawa yang dipindahkan sebagai buruh yang ditempatkan di beberapa daerah, seperti pertama kali di Sumatra Utara, sebagai buruh-buruh kontrak di perkebunan, yang dilanjutkan ke daerah-daerah lain. Selain itu pada zaman Suharto, banyak orang Jawa yang dipindahkan dari tempat asalnya, ke daerah-daerah lain di Indonesia, seperti ke Lampung-Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain. Populasi orang Jawa yang begitu besar, membuat banyak orang Jawa yang berada di bawah garis kemiskinan.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, sekolompok orang Jawa pernah dibawa ke Suriname di Amerika Selatan, sebagai buruh pekerja paksa, yang akhirnya tetap menetap di negara tersebut hingga saat ini, dan membentuk suatu komunitas tersendiri di Suriname sebagai etnis Jawa, yang tetap mempertahankan adat-istiadat serta budaya Jawa.
Orang Jawa terkenal karena keramahan dan sopan santun apabila berbicara dengan orang lain. Mereka juga tidak mudah tersinggung dalam menghadapi orang lain, mereka juga suka bercanda dan periang, serta bisa menempatkan diri di hadapan kelompok etnis lain. Karena sifat dan karakter seperti ini lah yang membuat mereka bisa hidup dan berbaur dengan suku bangsa dari mana saja.
Orang Jawa berbicara dalam bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari, tapi mereka juga bisa berbicara dalam bahasa Indonesia dengan dialek yang kental, untuk berkomunikasi dengan suku-suku lain. Masyarakat suku Jawa yang telah bermukim di luar pulau Jawa, seperti di Sumatra Utara dan yang terdapat di daerah Tondano provinsi Sulawesi Utara, para generasi mudanya kebanyakan sudah tidak bisa berbahasa Jawa lagi, mereka cenderung menggunakan bahasa-bahasa dan dialek setempat.
Dalam bahasa Jawa, pada dasarnya terdiri dari 3 kasta bahasa, yaitu:
- Ngoko (kasar)
- Madya (biasa)
- Krama (halus)
Dalam bahasa Jawa penggunaan tingkatan bahasa tersebut, tergantung status yang bersangkutan dan lawan bicara. Status bisa ditentukan oleh usia, posisi sosial, atau hal-hal lain. Seorang anak yang bercakap-cakap dengan sebayanya akan berbicara dengan varian ngoko, namun ketika bercakap dengan orang tuanya akan menggunakan krama andhap dan krama inggil. Sistem semacam ini masih dipakai di Surakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Dialek lainnya cenderung kurang memegang erat tata-tertib berbahasa semacam ini.
Terdapat juga bentuk bagongan dan kedhaton, yang hanya dipakai sebagai bahasa pengantar di lingkungan keraton. Dengan demikian, dikenal bentuk-bentuk ngoko lugu, ngoko andhap, madhya, madhyantara, krama, krama inggil, bagongan dan kedhaton.
contoh kalimat:
- Bahasa Indonesia, "maaf, saya mau tanya rumah Budi itu, di mana?"
- Ngoko kasar, “eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
- Ngoko alus, “aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
- Ngoko meninggikan diri sendiri, “aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?” (ini dianggap salah oleh sebagian besar penutur bahasa Jawa karena menggunakan leksikon krama inggil untuk diri sendiri)
- Madya, “nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?” (ini krama desa (substandar))
- Madya alus, “nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?” (ini juga termasuk krama desa (krama substandar))
- Krama andhap, “nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?” (dalem itu sebenarnya pronomina persona kedua, kagungan dalem 'kepunyaanmu'. Jadi ini termasuk tuturan krama yang salah alias krama desa)
- Krama lugu, “nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
- Krama alus, “nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
Dalam kehidupan orang Jawa, terutama yang berada di Jawa Tengah dan D.I. Jogjakarta, dikenal 3 golongan sosial, yaitu:
- Santri, santri adalah penganut agama Islam yang taat
- Abangan, abangan adalah penganut Islam secara nominal atau penganut Kejawen
- Priyayi, adalah kaum bangsawan
![]() |
| Wayang Jawa |
Masyarakat suku Jawa pada umumnya memiliki profesi sebagai petani. Kehidupan petani sangat kental dan tradisi orang Jawa, terutama yang hidup di pedesaan. Padi menjadi tanaman utama bagi masyarakat suku Jawa, selain itu mereka juga menanam berbagai jenis sayur-sayuran serta buah-buahan. Mereka juga menanam tembakau, cengkeh, kelapa, tebu, dan lain-lain.
Masyarakat suku Jawa yang tinggal di perkotaan, memiliki profesi yang beragam, bagi yang berpendidikan rendah menjadi pedagang, buruh bangunan. Sedangkan yang memiliki pendidikan lebih baik, biasanya menjadi pegawai di kantor-kantor pemerintah dan kantor-kantor swasta. Selain itu banyak juga orang Jawa yang mencari penghidupan di luar negeri, seperti menjadi TKI di Malaysia dan daerah timur tengah.
sumber:
- sosbud.kompasiana: suku-jawa
- scribd: perbedaan suku jawa vs suku sunda
- shvoong: asal-usul suku jawa
- sosbud.kompasiana: suku jawa
- wiipedia
- mengenalbudayajawa.blogspot.com
- pannyuppy.blogspot.com



